Home / Birokrasi / Daerah / Demokrasi / Hukum / Jatim / News / Peristiwa

Selasa, 26 Juli 2022 - 19:08 WIB

Hakim Itong dan Terdakwa Saling Bantah Soal Uang Suap Perkara di PN Surabaya

Editor - ADDY

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Hakim Itong Isnaini Hidayat dipertemukan untuk pertama kalinya dengan dua terdakwa perkara dugaan suap, Panitera Pengganti M. Hamdan, dan pengacara RM Hendro Kasiono di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya. Hasilnya, tentu saja aksi saling bantah pun terjadi saat jaksa memperjelas soal perkara uang suap yang telah diterima.

Pada kesaksian awal, Itong menjelaskan duduk perkara yang membelit kedua terdakwa. Ia menjelaskan, bahwa dirinya tidak mengenal terdakwa Hendro dan mengetahui jika Hamdan adalah Panitera Pengganti di Pengadilan Negeri Surabaya.

“Saya mengenal Hamdan sebagai panitera pengganti di PN Surabaya. Kalau Terdakwa Hendro sebelumnya tidak kenal, baru tahu setelah peristiwa (OTT) itu,” ujarnya menjelaskan, Selasa (26/7).

Ditanya jaksa soal perkara dugaan suap yang menjerat kedua terdakwa? Itong menjelaskan, jika dirinya tidak pernah menerima uang sepeser pun terkait perkara pembubaran perusahaan yang tengah disidangkannya. Ia menjelaskan, apa yang dilakukan oleh terdakwa Hamdan, tidak pernah diketahui dirinya sebagai hakim.

“Hamdan memang pernah ngomong, jika ia akan melobi pak wakil ketua (PN) untuk perkara ini. Tapi saya bilang, saya tidak pernah minta-minta perkara pada Ketua atau Waka meski saya satu angkatan dengan mereka. Saya malu,” tegasnya.

Itong lalu menjelaskan, selang 3 atau 4 hari setelah pembicaraan itu, dirinya memang ditunjuk untuk menangani perkara pembubaran PT. Soyu Giri Primedika (SGP). Namun ia tidak mengetahui bagaimana proses hingga dirinya ditunjuk untuk menangani perkara tersebut.

Baca Juga  Sidik Akui dr. Irma Seliana Ajukan Pembatalan Dengan Kesepakatan Uang Diangsur

“Saya tidak tahu prosesnya bagaimana. Tapi 3 atau 4 hari setelah (bertemu Hamdan) itu memang saya ditunjuk untuk menangani perkara tersebut,” tegasnya.

Lalu bagaimana dengan uang suap sebesar Rp260 juta atau Rp140 juta yang diserahkan Hamdan, tanya jaksa, Itong pun dengan lugas membantah tuduhan tersebut. Ia menyatakan tidak pernah menerima uang berapapun jumlahnya dari perkara itu.

“Saya tidak terima uang yang Rp260 juta atau yang Rp140 juta,” katanya.

Menanggapi hal ini, terdakwa Hamdan menyatakan bahwa pernyataan saksi Hakim Itong itu tidak benar. Ia menyebut, bahwa dalam perkara pembubaran PT. SGP, hakim Itong sendiri lah yang melobi Waka PN Surabaya agar ia dapat menangani perkara tersebut.

“Itu tidak benar yang mulia. Yang melobi Waka PN itu saksi (Hakim Itong) sendiri,” tukasnya.

Hamdan menambahkan, ia juga membantah soal pengakuan Hakim Itong yang tidak menerima uang. Ia menyebut, beberapa kali sudah memberikan uang pada hakim Itong terkait dengan beberapa perkara. Besarannya pun, bervariasi.

“Permohonan sebelum masuk, bawa uang. Jadi uang diterima duluan (oleh hakim Itong,” kata Hamdan menyangkal pernyataan saksi Itong.

Baca Juga  Perkuat Produksi Pertanian, di HUT ke-50 Petrokimia Gresik Gelar One Day Promotion

Saling bantah pun sempat terjadi saat Ketua Majelis Hakim Tongani meminta tanggapan saksi Itong terkait bantahan terdakwa Hamdan. Hingga akhirnya, Hakim Tongani menegaskan pertanyaan, apakah keduanya tetap pada pendapatnya masing-masing. Baik saksi hakim Itong maupun terdakwa Hamdan menyatakan tidak akan mengubah keterangannya.

Diketahui, sidang perkara tindak pidana korupsi gratifikasi suap Hakim Pengadilan Negeri Surabaya nonaktif, Itong Isnaeni Hidayat digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Surabaya. Atas perkara ini, Itong tidak sendirian, ia pun didakwa bersama dengan M Hamdan; Panitera Pengganti, dan Hendro Kasiono; seorang pengacara, dalam berkas terpisah. Total suap yang diterima dalam perkara ini mencapai Rp545 juta.

Hakim Itong dan Panitera Pengganti M Hamdan pun dijerat dengan pasal berlapis. Diantaranya Itong Isnaeni dan Hamdan sebagai penerima suap didakwa pasal Kesatu: Pasal 12 huruf c UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Kedua: Pasal 11 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1.

Sedangkan, terdakwa Hendro Kasiono sebagai pemberi suap didakwa Kesatu: Pasal 6 ayat (1) huruf a UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Kedua: Pasal 13 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Sifa/Mg/Ady

Share :

Baca Juga

Birokrasi

Persoalan RS Mata PT Fatma, Nurhadi: Ibu Dr. Erry dijadikan tameng oleh Angelia Dewanti dan Yudi Yudewo
Beryl Cholif Arrachman, Presiden Rotary Club of Surabaya Metropolitan yang baru (sebelah kiri), Romy Junardy DGE (District Governor Elected) Rotary D3420 dan Johanes Dipa Widjaja, (foto: Ady_Kicom)

Birokrasi

Beryl Resmi Gantikan Johanes Dipa Sebagai Presiden Rotary Club’ Surabaya Metropolitan Periode 2022-2023

Birokrasi

Tingkatkan Kemampuan Siswa Dikmaba TNI AL Angkatan XLI/1 Kejuruan APM Mengikuti Lattek Pelayanan Kesehatan

Jabar

Polsek Cantigi Gelar Patroli Sambang di Desa Lamaran Tarung Jaga Kamtibmas Tetap Kondusif

Jatim

Kapolda Jatim Tinjau Ribuan Warga Sidoarjo Ikuti Serbuan Vaksinasi Nasional TNI-Polri

Jabar

Gelar Operasi Pekat, Personel Polsek Indramayu Berhasil Sita Miras Pabrikan

Hukum

Simpan Narkotika di Jok Sepeda Motor, Dua Pemuda di Bener Meriah Diamankan Polisi

Bisnis

Tersedia di Blibli, Volta Sukses Tebar Pesona di Indonesia E-Vehicle Expo 2021