Home / Budaya / Featured / Jatim

Selasa, 10 Agustus 2021 - 11:54 WIB

Jamasan Tiga Pusaka Kebupaten Ponorogo, Kang Giri: Simbolisasi Membersihkan Hati

Editor - ARSO

foto: akun FB Pemerintah Kabupaten Ponorogo

foto: akun FB Pemerintah Kabupaten Ponorogo

foto: akun FB Pemerintah Kabupaten Ponorogo

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Menjelang pukul lima sore, Selasa Pon(10/08/2021) bertepatan dengan 1 Muharam 1443 Hijriah atau 1 Suro 1955 Saka, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko yang didampingi Wakil Bupati Lisdyarita melakukan jamasan terhadap tiga pusaka Kabupaten Ponorogo yaitu  Tombak Tunggul Nogo, Sabuk Angkin Chinde Puspito, dan Payung Songsong Tunggul Wulung.

Satu demi satu, pusaka-pusaka yang berjasa dalam berdirinya Ponorogo disiram dengan air kembang tujuh rupa. Ketiganya dibersihkan dan dipelihara kelestariannya sebagai pengingat perjuangan Eyang Batoro Katong, yang merupakan pendiri Ponorogo.

Matahari yang beranjak tenggelam pun menjadi saksi pelaksanaan jamasan tiga pusaka Kabupaten Ponorogo tersebut. Ritual ini tak semata memandikan benda pusaka, akan tetapi lebih dari itu, jamasan menjadi simbolisasi pembersihan hati dan penjagaan iman kepada Sang Mahakuasa.

Baca Juga  Teatrikal Polisi Tembak Polisi, Warnai Upacara HUT Kemerdekaan RI ke 77 di Kemiri Sidoarjo

“Jamasan ini simbolisasi pembersihan hati dan penjagaan iman kita,” ungkap Bupati Sugiri usai melaksanakan jamas pusaka di depan Pringgitan (Rumah Dinas Bupati Ponorogo).

Dikatakannya, sebenarnya membersihkan pusaka tidak harus dilakukan pada 1 Suro. Setiap saat pun bisa. Akan tetapi, pilihan jamasan pada 1 Suro adalah sebuah upaya untuk menghormati leluhur Ponorogo yang telah membangun wilayah ini. Jamasan juga merupakan upaya untuk menghargai kebudayaan yang ada di tanah Ponorogo.

“Ini adalah benda pusaka warisan leluhur kita sehingga harus diuri-uri (dilestarikan) oleh setiap pemimpin di Ponorogo ini. Dan saya meneruskan itu,” ungkap Bupati Sugiri.

Lebih lanjut dituturkan Kang Giri, “mudah-mudahan dengan dijamasinya pusaka ini maka Ponorogo akan bersih dari segala sengkala (musibah), segala coba (cobaan), segala bebendu (kendala) dan segala pageblug (wabah). Semua itu sirna dari bumi Ponorogo. Itu harapan kita bersama,” ulas Bupati Sugiri.

Baca Juga  HUT RI ke 77, Masyarakat Perkebunan di Jatim Masih Belum Merdeka Dari Kemiskinan

Jamasan pusaka kali ini dilaksanakan secara berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ritual hanya dilakukan oleh sembilan orang pasukan pembawa pusaka dari Paguyuban Kawula Kraton Surakarta (Pakasa) Gebang Tinatar Pang Ponorogo dan dihadiri oleh beberapa pejabat Pemkab Ponorogo saja.

Menurut Pangarsa (Ketua) Pakasa Pang Ponorogo KRA Gendhut Wreksadiningrat, jamasan kali ini memang dilaksanakan dengan protokol kesehatan karena masih dalam situasi pandemi dan diberlakukan PPKM Level 4.

“Jamasan ini bermakna kita ini harus membersihkan diri kita, hati kita, di tahun yang baru ini untuk mendapatkan nilai luhur di hadapan Yang Maha Esa, Allah Subhanahuwata’ala,” pungkasnya

Share :

Baca Juga

Birokrasi

RJ Dari Kejati Jatim Pada Tersangka Narkoba Tuai Kritikan, Pakar: Jangan Ambil Kewenangan Aparat Penegak Hukum Lainnya

Daerah

Ketua Komisi E DPRD Jatim Nilai Pelaksanaan PPKM Darurat Kurang Sosialisasi

Daerah

FPKB DPRD Jatim Kembali Respon Kerja Khofifah : Ini Gubernur Gimana Ya Kok 19 kepala OPD Masih Kosong ?

Daerah

Lantik Ratusan Anggota Pelopor se-Jatim, Ketua PKS Jatim Kang Irwan: Kesempatan Tingkatkan Kontribusi untuk Rakyat dan NKRI Lebih Banyak

Daerah

Pj Sekda dan Gubernur Jatim Harus Segera Bentuk Pansel Sekdaprov Definitif
Jemaah haji 2022 kloter pertama diberangkatkan dari Bandar Udara Internasional Juanda Surabaya, (foto: Ady_Kicom)

Birokrasi

Jemaah Haji 2022 Kloter Pertama di Jatim Diberangkatkan dari Bandar Udara Internasional Juanda Surabaya

Birokrasi

Aset di Jalan Mayjend Sungkono Milik Pemkot Diselamatkan Kejari Surabaya

Daerah

Sahat Tua Simanjuntak Hadiri Penyampaian SK Perhutanan Sosial kepada 22 kelompok Perhutanan Sosial