Menu

Mode Gelap
Bersama Pemkab Ponorogo, UMPO Launching Aplikasi Digital-Media Reka Creative Desa Gagal Pengereman, Hasil Penyelidikan Laka Bus Wisata di Magetan Grup Band Slank Bakal Ramaikan Kota Tidore 3 Terdakwa Kasus Ambruknya Seluncur Kenpark Diadili di PN Surabaya Operasi Skala Besar Gengster, Jajaran Polrestabes Surabaya Amankan 26 Orang Pemuda

Kanal Jabar · 23 Nov 2022 15:44 WIB

Paska Gempa M5,6 Cianjur, BMKG: Waspadai Bencana Tanah Longsor dan Banjir Bandang


					Foto udara dampak kerusakan gempabumi dan longsoran di Kampung Sarampad, Desa Sarampad, Kec. Cugenang, Kab. Cianjur, Selasa (22/11). Perbesar

Foto udara dampak kerusakan gempabumi dan longsoran di Kampung Sarampad, Desa Sarampad, Kec. Cugenang, Kab. Cianjur, Selasa (22/11).

JAKARTA, KANALINDONESIA.COM Paska terjadinya gempa bumi pada berkekuatan M5,6 yang menewaskan ratusan warga, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghimbau masyarakat di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat agar mewaspasai bencana alam lanjutan berupa tanah longsor dan banjir bandang.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan imbauan ini dikhususkan bagi masyarakat Cianjur yang bermukim di daerah lereng-lereng perbukitan dan di lembah atau bantaran sungai.

Menurutnya, besar kemungkinan lereng-lereng perbukitan di Cianjur menjadi rapuh usai terjadinya gempa bumi. Hal ini dapat semakin diperparah dengan tingginya intensitas hujan yang berpotensi mengguyur Cianjur.

“Lereng-lereng yang rapuh ini ditambah hujan deras dapat memicu terjadinya longsor dan banjir bandang dengan membawa material runtuhan lereng. Jadi masyarakat dan pemerintah setempat juga perlu mewaspadai adanya kolateral hazard atau bahaya ikutan usai gempa kemarin,” imbuhnya.

Dwikorita menyampaikan, banyaknya korban jiwa dalam peristiwa gempa Cianjur akibat tertimpa bangunan yang tidak mampu menahan guncangan gempa. Sebagai informasi, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengonfirmasikan ada sebanyak 162 korban yang meninggal dunia dan 326 luka-luka akibat gempa Cianjur.

“Sebenarnya gempa tidak membunuh dan melukai. Justru, bangunanlah yang membunuh dan melukai manusia.

Lebih lanjut, Dwikorita meminta masyarakat untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi. Karena dikhawatirkan tidak kuat menopang dan ambruk jika sewaktu-waktu terjadi gempa susulan.

“Untuk sementara jangan memaksakan kembali ke rumah jika bangunannya rusak atau retak-retak. Hingga pukul 06.00 WIB, 22 November 2022, telah terjadi 117 gempa susulan dengan terbesar tinggi getaran 4.2 dan terkecil 1.5 magnitudo,” ujarnya.

Dwikorita juga meminta masyarakat untuk tetap tenang namun waspada dan tidak serta-merta mempercayai informasi ataupun berita yang tidak jelas asal-usulnya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal-kanal komunikasi resmi BMKG,” ujarnya.

Sejak kejadian kemarin, tambah Dwikorita, Tim BMKG terjun ke lokasi bencana bersama BPBD Kota Cianjur untuk melakukan sosialisasi dan menenangkan warga masyarakat yang terdampak. Sedangkan, mulai hari ini, Selasa (22/11) Tim Survey BMKG melakukan perekaman gempa-gempa susulan dan tingkat kerusakan, untuk menghasilkan peta makrozonasi dan mikrozonasi yang diperlukan untuk mendukung proses rekonstruksi dan penyempurnaan tata ruang. (*)

Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Presiden Serahkan Dana Stimulan Bagi Warga Terdampak Gempabumi M 5.6 Cianjur

8 Desember 2022 - 13:54 WIB

Ada 11 Orang Korban Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar, 1 Anggota Polri Meninggal

7 Desember 2022 - 19:05 WIB

Ledakan Diduga Bom Bunuh Diri Terjadi di Polsek Astana Anyar, Bandung

7 Desember 2022 - 10:56 WIB

Mantan Pimpinan Sunda Empire Lord Rangga Dikabarkan Meninggal

7 Desember 2022 - 10:09 WIB

istimewa

Tinjau SMPN 1 Warungkondang, Presiden: Rehabilitasi Segera Dimulai

5 Desember 2022 - 18:21 WIB

Presiden Tinjau Progres Pembangunan Rumah Tahan Gempa di Cianjur

5 Desember 2022 - 18:13 WIB

Trending di Kanal Jabar