Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL BUDAYA DAN WISATA

Kyai Ageng Hasan Besari dan Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari Ponorogo

Para santri memiliki lumbung-lumbung padi sebagai tempat menampung kebutuhan makan mereka selama di pondok. Satu lumbung digunakan oleh empat sampai lima orang santri. Mereka menjaganya secara bergantian.

Sejak awal didirikannya masjid dan pondokan-pondokan, Bahasa Arab sudah mulai diajarkan di Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari. Dan pada perkembangannya, kitab-kitab agama Islam juga banyak dikaji di pesantren ini.

Hingga saat ini masih ditemukan beberapa kitab peninggalan masa awal Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari. Sebut saja misalnya Al-Munhati, Jauharuttauhid, Jauharussamin Liummil Barohain dan kitab Tajwid. Tidak diketahui siapa penulis beberapa kitab tersebut. Namun dari tulisannya, diduga penulisnya adalah satu orang dan pernah belajar di Tanah suci Mekah.

Kitab-kitab tersebut menggunakan keterangan berbahasa Arab dan kertasnya juga tidak berasal dari daerah sekitar Tegalsari, melainkan kertas yang identik dengan kertas-kertas yang ada di daerah Arab pada masa lalu. Tidak diketahui pula kapan kitab-kitab itu ditulis, hanya pada halaman pertama kitab Jauharussamin Liummil Barohain tertulis bulan Jumadil Awal tahun Alif.

Selain itu, ditemukan juga Tiga jilid Kitab Fiqh Syarh Fathul Mu’in karangan Zainuddin Al-Malibari. Penulisan kitab Syarh tersebut dilakukan oleh beberapa orang dari beberapa generasi. Penulisnya adalah Muhammad Jalalain, Hasan Ibrahim, Hasan Yahya, Hasan Ilyas, dan Muhammad Besari.

Terdapat juga satu bendel kitab yang dimungkinkan paling tua usianya. Sampulnya terbuat dari kulit dan kertasnya adalah kertas gedok dari Tegalsari. Pada halaman pertama bendelan kitab yang sudah sangat lusuh dan mulai hancur ini terdapat catatan proses terjadinya Desa Tegalsari sebagai ‘tanah perdikan’. Disebutkan juga jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang tinggal disana pada masa awal berdiri. Selanjutnya, di dalam bendelan kitab ini juga terdapat penggalan karya fiqh yang tidak jelas dikutip dari kitab apa. Yang jelas teksnya menggunakan huruf Arab Pegon atau Arab Melayu.

Disamping itu, pada halaman berikutnya juga ditemukan Syarh kitab fiqh yang tidak lengkap berjudul “Al-Muharror” karangan Abul Qosim Arrafi (wafat 1226 M). Diperkirakan syarh kitab ini ditulis oleh Kasan Yahya pada tahun 1800-an. Terdapat juga penggalan kitab Fathul Wahhab karangan Zakariya Al-Ansharei (wafat 1277). Kitab lainnya yang terdapat dalam bendelan kitab itu adalah kitab Faroid. Namun tidak diketahui juga siapa penulis dan tahun penulisan dari kitab yang terakhir ini.

Hal tersebut diatas, juga selaras dengan pandangan Simuh, seorang penulis buku-buku tentang Ronggowarsito. Ia mengatakan bahwa disamping memiliki perpustakaan yang berisi buku-buku agama Islam, Pesantren Tegalsari juga memiliki perpustakaan Kejawen. Kesimpulannya tersebut berangkat dari beberapa fakta tentang Kyai yang membawa Gebang Tinatar-Tegalsari menuju masa kejayaannya, yaitu Kyai Kasan Besari.

Selain terkenal dengan kesaktiannya, Kyai Kasan Besari adalah menantu Pakubuwono IV. Dengan demikian, Kyai Kasan Besari adalah seorang priyayi. Dan sudah menjadi kebiasaan pada waktu itu bahwa setiap priyayi bisa dipastikan mempunyai koleksi kitab-kitab kejawen. Belum lagi, dibawah asuhannya telah lahir seorang pujangga jawa kenamaan Raden Ngabehi Ronggowarsito. Hal ini memperkuat dugaan Simuh.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita