SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Dua YouTuber, yakni M Imron Pribadi (Digitalpreneur dari Jember) dan M Salamun (konten kreator dari Malang), menyarankan YouTuber Santri hendaknya jangan fokus pada monetisasi dan marketing digital melalui YouTube, melainkan fokus pada dakwah digital, sedangkan monetisasi dan marketing hanya sebagai manfaat sampingan.
“Jangan fokus pada monetisasi dan marketing, tapi dakwah digital, karena banyak warga NU yang jadi sasaran dakwah digital dari tetangga sebelah (minhum), karena warga NU yang masuk pesantren itu hanya 20-30 persen. Kalau sisanya dibina ‘minhum’ akan ‘membahayakan’ NU,” kata Imron dalam Webinar AYSI (Asosiasi YouTuber Santri Indonesia), Sabtu.
Dalam Webinar AYSI bertajuk “Strategi Marketing dan Monetisasi YouTube” yang diikuti 99 peserta secara daring itu, Imron dari “Makrifatbusiness” Jember itu menjelaskan kelompok “minhum” sudah menguasai “media segala media” seperti YouTube, karena itu AYSI harus masuk untuk mengambil alih dominasi itu.
“Jadi, monetisasi dan marketing itu jangan jadi tujuan, tapi kalau niat kita untuk membantu ulama dan NU melalui dunia digital, maka monetisasi itu pasti akan kita dapatkan juga. Kalau dakwah yang kita lakukan mengikuti aturan main dari YouTube dan kita connect dengan Adsense, maka monetisasi dan marketing itu akan masuk dengan sendirinya,” katanya.
Menurut dia, aturan main dari YouTube itu antara lain konten yang dipublikasikan itu tematik secara fokus dalam tema tertentu, publikasi dilakukan secara rutin atau istiqomah dengan sedikit kreativitas, dan tidak melalukan cara-cara ilegal seperti meniru gaya/model tokoh tertentu, meniru/menjiplak channel, dan tidak membeli “subscribe”, maka monetisasi pasti akan didapat juga.
“Bahkan, kita dapat lebih, karena kita juga melakukan dakwah digital yang rahmatan lil alamin. Kalau pun tidak monetisasi, kita masih punya peluang lain yakni digital marketing dengan membantu berjualan produk pesantren atau produk organisasi/komunitas lewat YouTube,” katanya.
Untuk “digital marketing” itu, ia mengatakan kuncinya adalah keyword/kata kunci, thumbnail/judul, dan hastag (tanda pagar). “Tapi, kalau marketing itu harus lintas platform, jangan hanya YouTube, tapi juga ke Instagram, Tiktok, Facebook, Twitter, Line, dan sebagainya,” katanya.
Pandangan M Imron juga didukung M Salamun (konten kreator dari Malang). “YouTuber Santri itu jangan fokus pada monetisasi, tapi niat dakwah digital saja. Kalau monetasi ada cara lain, selain mengikuti aturan main YouTube, juga bisa mengikuti program YouTube yang tahun 2021-2022 disediakan Rp1,4 triliun untuk program short video,” katanya.
Salamun yang juga anggota AYSI itu mengharapkan YouTuber Santri “menguasai” YouTube, karena kelompok minhum sangat gencar, bahkan dirinya sebagai santri sempat terpapar dengan sejumlah ustadz NU yang justru kontra-NU, karena mungkin mereka juga terpapar dengan kelompok di luar NU, sehingga mereka justru memecah belah NU.
“Saya pernah kena brainwash ulama NU yang kontra-NU, namun saya akhirnya disadarkan teman-teman hingga mengenal beberapa ulama NU benar-benar mengembangkan dakwah Rahmatan Lil Alamin ala Aswaja, seperti Gus Muwaffiq, KH Marzuki Mustamar, Gus Baha. Karena itu, YouTuber Santri harus fokus ke dakwah digital untuk melawan dakwah kontra-NU yang memakai orang-orang NU sendiri,” katanya.
