“Tas apa ini?” tanya Presiden saat menghampiri Paulina Adii sambil tersenyum.
“Ini tas terbuat dari kulit kayu, Bapak,” ujar Paulina.
Setelah melihat-lihat dan memilih, Presiden kemudian memutuskan untuk membeli empat noken. Ada yang dari rajutan kulit kayu, dua dari sulaman benang. Diambilnya uang dua juta dan diserahkan kepada Kaka Yulita dan Paulina masing-masing sejuta, dan melanjutkan perjalanan ke Hotel Suni.
Direktur Eksekutif Yapukepa, Flory Koban bersyukur, tulisan sederhana di facebook-nya dua pekan lalu, bisa menggugah seorang kepala negara untuk singgah di lapak jualan Kaka Yulita dan Paulina.
Ditemui media ini di Panti Asuhan Kerahiman Hawai, Flory mengaku sehari sebelum Presiden tiba, tepatnya Kamis, 30 Oktober 2021, memang ada salah seorang staf dari istana presiden bernama Pak Made, menemui dirinya dan dua suster pengasuh panti yakni Sr. Alexia, DSY dan Sr Fidelia, DSY.
“Tapi Pak Made tidak singgung soal Presiden mau datang esoknya. Jadi ini benar-benar surprise. Puji Tuhan, anak-anak panti asuhan juga mendapat bantuan presiden, ” tutur Flory.
Usai berlalunya Jokowi di petang itu menuju penginapannya, bantuan benar-benar datang ke panti asuhan. Sebanyak 100 paket sembako berisi beras, gula, minyak goreng dan sebagainya, serta 65 paket perlengkapan sekolah berupa buku, pena dan tas, diserahkan Pak Made dan timnya.
Rajutan Noken dan Cinta Untuk Anak Yatim Piatu
Flory mengisahkan, Yapukepa adalah yayasan kemanusiaan Katolik yang menaungi tiga panti asuhan di Sentani yakni Panti Asuhan Putri Kerahamian Hawai Sentani Kota (62 anak), St. Egidius Polomo Sentani (39 anak), dan Wisma Senja di Pasar Lama Sentani yang sedang menampung 6 anak berkebutuhan khusus.
Sejarah berdirinya yayasan ini dimulai dari bencana kelaparan dan muntaber yang menimpa masyarakat di kawasan Danau Sentani pada tahun 1990. Adalah seorang misionaris asal Belgia, Sr. Mariechen Warson, DSY, yang memelopori aksi kemanusiaan dengan menolong 10 anak yatim piatu korban bencana itu. Menampung dan merawat mereka.
Kabar ini terdengar ke telinga banyak orang dan mulailah Sr. Warson menyewa gubuk di daerah Hawai, Sentani. Dalam perjalanan waktu, berkat dukungan banyak umat Katolik dari Paroki Argapura dan dorongan Pastor Nico Syukur Dister OFM, tahun 1992 berdirilah Yayasan Putri Kerahiman dan membangun panti asuhan di lokasi itu.
“Jadi Kaka Yulita dan Paulina ini adalah orang pertama yang kerja dengan Sr Warson di awal berdirinya panti. Secara aturan Disnaker, mereka harusnya sudah pensiun, tapi kami tak punya uang pesangon bayar mereka. Mereka dua belum nikah. Tidak punya rumah,” jelas Flory.
Maka sejak dipercayakan mengurus Yapukepa, Flory memberi kesempatan kepada Kaka Yulita dan Paulina untukn tetap tinggal dan bekerja di Panti Asuhan Putri Kerahiman. Memasak, menyapu dan mencuci dengan gaji seadanya. Panti asuhan adalah rumah mereka.
“Ketika tugas sudah selesai, mereka dua isi waktu dengan anyam noken. Bagus-bagus hasilnya. Ada yang dari kulit kayu, ada yang dari benang. Bagus-bagus hasilnya.D Dijual rata-rata Rp 150 ribu-500 ribu per noken. Makanya kesempatan PON ini saya inisiatif tulis di facebook itu,” tutur Flory.
