Menurut Flory, kerja sosial mengurus anak-anak yatim piatu sangatlah mengasyikan, walau bukan perkara mudah. Untuk Panti Asuhan Putri Kerahiman dengan 62 anak dan 11 karyawan, sebulan yayasan membutuhkan pengeluaran rata-rata di atas Rp 50 an juta per bulan. Itu untuk makan minum, gaji, operasional, dan perlengkapan sekolah anak-anak. Tetapi ia bersyukur, selalu saja ada donatur yang tergerak hatinya untuk menolong mereka.
Ia menuturkan, anak-anak penghuni panti asuhan berasal dari berbagai daerah di Papua. Mereka masuk atas rekomendasi para pastor atau umat yang bertugas di pedalaman. Tak hanya yatim piatu, ada juga juga berasal dari keluarga broken home dan yang tak mampu secara ekonomi.
“Dari 62 anak yatim piatu yang kami tampung di Panti Asuhan Putri Kerahiman, usianya rata-rata 4-16 tahun, dimana terbanyak perempuan ada 57 orang perempuan, sisanya laki-laki. Mereka butuf figur ayah, makanya saya tinggal di dalam sini, walaupun saya ada rumah pribadi,” ujarnya
Flory yang lahir besar di Tiom, Lanny Jaya ini juga mengaku, saat ini pihaknya sangat membutuhkan bantuan kendaraan operasional untuk transportasi anak-anak panti asuhan. Rata-rata anak-anak bersekolah di TK Nina, SD Negeri Sentani SMP 5 Sentani, SMP 6 Sentani, SMP YPPK Bonaventura Senyani, SMA YPPK Asisi Sentani, dan SMK St Yosep Nazaret. Selain itu, beberapa gedung seperti aula tempat bermain dan ruangan tidur anak-anak, saat ini bocor dan butuh perbaikan.
“Kami dapat bantuan bus mini kapasitas 16 orang dari Keuskupan Jakarta, tapi sejak 2000 jadi usianya sudah tua. Sering rusak dan masuk bengkel bisa jutaan bayarnya. Semoga ada hati yang terbuka dan dan tangan yang ringan untuk membantu kami, baik itu pemerintah, swasta maupun pribadi,” harap Flory.
Flory terenyuh ketika pada 30 September 2021 malam, anak-anak panti asuhan melihat langit di Sentani tampak bercahaya. Panitia melakukan test lighting Stadion Lukas Enembe, tempat berlangsungnya pembukaan PON XX. Anak-anak bersuka cita luar biasa malam itu. Walau tak paham, apa dampak PON bagi nasib mereka ke depan.
“Selama ini kami tidak rasakan euforia PON. Kami hanya dengar tandanya bahwa bunyi sirene pengawalan atlit dan orang orang besar lewat di jalan, itu saja. Kami hanya orang kecil yang tinggal di kota besar. Tetapi berkat rajutan noken Kaka Yulita dan Paulina, Presiden bisa membantu anak-anak di panti asuhan ini. Ini rajutan cinta yang tak akan mereka lupa dan jadi penyemangat bagi mereka merajut cita-cita. Sekali lagi terima kasih Bapak Presiden,” tutup Flory.
