Lebih jauh Fajar menyatakan, bahwa di kalangan umat islam sendiri nampaknya pesantren telah dianggap sebagai model institusi Pendidikan yang memiliki keunggulan baik dari aspejk tradisi keilmuannya yang merupakaan salah satu tradisi agung maupun sisi transmisi dan moralitas umat islam. Selanjutnya ia menegaskan bahwa, dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan Pendidikan islam di Indonesia tidak dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam lokal genius. Hal tersebut menunjukan bahwa peran pesantren telah merambah ke segala bidang bahkan telah menjadi bagian dari sistem Pendidikan nasional kita, maka sangat keliru jika ada anggapan bahwa peran pesantren sangat kecil dan rendah dalam mensukseskan program pembangunan nasional (Fajar, 2010:65).
Sebagai Simbol Akhlaq dan Bertetapan dengan Bulan Maulid Nabi
Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam beberapa waktu setelah Nabi Muhammad wafat. Peringatan tersebut bagi umat muslim adalah penghormatan dan pengingatan kebesaran serta keteladanan Nabi Muhammad SAW dengan kemuliyaan akhlaqnya. Maka bisa di istilahkan bahwa Bulan Maulid adalah Bulan Akhlaq, karena pada peringatan maulid tersebut lebih diutamakan memperingati dengan perayaan sesuai tradisi masing-masing daerah serta pada individu kita masing-masing memperbaiki aklaq sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Sejarah maulid nabi ini ada dua pendapat yang menengarai awal munculnya tradisi maulid. Pertama, tradisi Maulid pertama kali diadakan oleh khalifah Mu’iz Ii Dinillah salah seorang
khalifah dinasti Fathimiyyah di mesir yang hidup pada tahun 341 Hijriyah. Kemudian, perayaan Maulid dilarang oleh Al-Afdhal bin Amiral al-Juyusy dan kembali marak pada masa Amir Ii Ahkamillah tahun 524 H. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Al-Sakhawi (wafat 902H). (situs www.knowledge-leader.net). Kedua, maulid diadakan oleh khalifah Mudhaffar Abu Said pada tahun 630 H yang mengadakan acara maulid besar-besaran. Saat itu, Mudhaffar sedang berpikir tentang cara bagaimana negerinya bisa selamat dari kekejaman Temujin yang dikenal dengan nama Jengiz Khan (1167-1227M.) dari mongol.
Jengiz Khan, seorang raja mongol yang naik tahta Ketika berusia 13 tahun dan mampu mengadakan kefenderasi tokoh-tokoh agama, berambisi menguasai dunia. Untuk menhadapi ancaman Jengiz Khan itu Mudhaffar mengadakan acara maulid. Tidak tanggung-tanggung, dia mengadakan acara maulid selama 7 hari 7 malam. Dalam acara maulid itu ada 5.000 ekor kambing,
10.000 ekor ayam, 100.000 keju dan 30.000 piring makanan. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas. Kemudian, dalam acara itu Mudhaffar mengundang paara orator untuk menghidupkam nadi heroism muslimin. Hasilnya, semangat heroisme muslimin saat itu dapat dikobarkan dan siap menjadi benteng kokoh islam. (Abd. Al-Rahman al-Sayuti, 1985: 43).
Di Indonesia sendiri, perayaan maulid nabi disahkan oleh negara sebagai hari besar dan hari libur nasional. Perayaan maulid nabi diselenggarakan di surau-surau, masjid-masjid, majlis ta’lim dan di pondok-pondok pesantren dengan beragam cara yang meriah. Meskipun seringkali tidak ada hubungan langsung antara kelahiran Nabi Muhammad dan upacara yang mereka lakukan, tetapi atas dasar kecintaan sebagai bentuk kehormatan maka pada malam hari tanggal 12 maulid biasanya membaca sirah nabawiyah (sejarah hidup nabi sejak kelahiran sampai wafatnya) dalam bentuk prosa dengan cara bergantian dan kadang-kadang dilagukan.
