Kemudian diarahkan menuju ke instalasi laboratorium untuk melakukan pemeriksaan meliputi screening Covid-19 atau melakukan screening rapid antigen dan darah lengkap, kemudian peserta atau penyelam diarahkan ke instalasi radiologi untuk melakukan rontgen dada guna untuk mengetahui kondisi paru-paru. Setelah melewati beberapa pemeriksaan tersebut, kemudian peserta atau penyelam membawa hasil pemeriksaan penunjang berupa lab dan rontgen kepada petugas operator chamber yaitu Lettu Laut (K) Hendry Suryanto, A.md.Kep untuk disiapkan data status pasien. Kemudian peserta/penyelam mendapatkan pemeriksaan kembali oleh Kadep Jangklin Kolonel Laut (K) dr. Ahmad Rofiq selaku dokter hiperbarik dengan membawa data status pasien dan pemeriksaan penunjang yang telah dilaksanakan untuk menentukan orang yang bersangkutan harus benar-benar dalam kondisi sehat dan layak masuk chamber.
Setelah dinyatakan layak, sebelum menikmati sensasi menyelam tanpa basah di ruang hiperbarik chamber, para penyelam diingatkan untuk melepaskan benda-benda yang dapat memicu api seperti logam, korek api, tisue dan lain sebagainya, kemudian diminta untuk berganti pakaian dengan pakaian khusus rumah sakit. Sebelum masuk ke ruang chamber, satu per satu pasien akan dilaksanakan pemeriksaan tubuh dengan menggunakan alat metal detector.
Setelah dipastikan bahwa tidak ada benda atau bahan mudah terbakar yang dibawah oleh penyelam di ruang hiperbarik, kemudian 8 orang terdiri dari 5 (lima) penyelam, 2 (dua) orang perwira dari RSAL dr. Midiyato Suratani yaitu Kasat Intel dan Paur Pampers yang ikut mendampingi dan 1 orang tender atau dokter pendamping diposisikan senyaman mungkin selama terapi, umumnya dalam posisi duduk santai, kemudian petugas meninggalkan pasien di ruangan hiperbarik.
Setelah itu, pihak petugas operator chamber melakukan monitoring dari luar chamber, dengan menginformasikan kepada para penyelam bahwa di dalam tabung sudah berada di kedalaman laut dan sedang melakukan aktivitas penyelaman. “Saat ini memasuki kedalaman 10 meter,” kata petugas operator chamber kepada para penyelam.
Para penyelam kemudian kembali diingatkan untuk melakukan valsava atau menetralisir gendang telinga dari tekanan kedalaman air. Caranya memencet hidung seraya seolah-olah mengeluarkan ingus.
Petugas operator chamber tersebut juga meminta kepada penyelam untuk meminta bantuan petugas tim Nakes yg ada didalam chamber apabila merasakan telinganya kesakitan.
Penanganannya jika terjadi demikian, Tim Nakes memberi pertolongan dengan cara memberikan informasi menggunakan radio dan memberi isyarat mengalami trouble.
Selanjutnya, penyelam diingatkan kembali bahwa dia berada di kedalaman 14 meter dari permukaan laut. Saat berada di kedalaman 14 meter para penyelam diminta untuk menggunakan masker tabung oksigen berbentuk dua selang.
Para penyelam kemudian diminta menghirup oksigen sebanyak-banyaknya melalui hidung dan mengeluarkannya dari mulut.
Setelah melakukan semua tahapan tersebut, petugas operator chamber mengingatkan penyelam bahwa akan menuju ke permukaan secara perlahan-lahan. “Sekarang kita naik. Masker tetap digunakan. Hirup oksigen sebanyak-banyaknya,” katanya.
Setelah sampai di permukaan, para penyelam diminta melepaskan masker. Usai dilepas Tim Penyelam dari Fasharkan Mentigi dengan didampingi Kasat Intel dan Paur Pampers serta 1 tender atau dokter pendamping melakukan wash out atau pencucian nitrogen dalam tubuh dengan menggunakan oksigen murni. Selama proses berlangsung kondisi tubuh dalam keadaan rileks dan sangat-sangat nyaman dirasakan, karena udara yang dihirup benar-benar murni 100 persen. Sehingga keluar dari chamber, para penyelam/peserta akan merasakan sensasi yang luar biasa.
