Sekedar diketahui bahwa, hebat, inspiratif dan patut dicontoh. Inilah potret aktivitas bisnis tiga mahasiswi dari Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang yang masuk hingga jadi finalis Jawara (Jagoan Wirausaha) pesantren.
Kelompok bisnis ini sukses mencetak paving block dari sampah plastik ini, berhasil lolos dalam 20 finalis Jawara pesantren dari 60 kelompok sebelumnya.
Ketua kelompok bisnis plan paving block eco friendly ini, Laily Sa’diyah turut senang mengikuti event yang digelar setiap tahunnya tersebut. Selain membuat ia lebih kreatif, juga menjadi mahasiswa yang siap untuk menjadi pengusaha.
“Alhamdulillah kelompok kami lolos ke babak 20 finalis Jawara, meski saingannya tambah berat dengan peserta yang lolos lainnya. Ada yang dari Jombang sendiri, dan luar daerah di Jawa timur. Ya mengikuti event ini ya harus berfikir se kreatif mungkin, maka dari itu kami senang mengikutinya dari awal,” kata Laily.
Melihat cara kerja bisnis dari kelompok yang terdiri 3 mahasiswi dari Unhasy Jombang ini, kata Laily berinsiatif untuk lebih memanfaatkan sampah plastik sampah jadi bahan yang bermanfaat.
“Kan sekarang masih banyak nih, sampah-sampah yang dibuang dan dipandang sebelah mata itu. Padahal kalau dipikir lagi, dari sampah plastik itu bisa jadi kerajinan atau bisnis yang bernilai. Salah satu contoh bisnisnya ya, buat paving block yang bahannya salah satunya bisa dari sampah plastik yang kemudian di daur ulang,” jelasnya di depan ruangan perlombaan itu.
Sampah plastik didaur ulang untuk paving block. Selain hemat bahan juga menekan biaya produksi. Di samping itu, mahasiswi yang masih duduk di kursi semester 6 program Pendidikan IPA ini menjelaskan, hasil karya mereka juga bisa dipakai menjadi alat penanggulangan bencana banjir.
“Lebih hemat dan bisa lebih kuat untuk menanggulangi banjir. Apalagi di Kabupaten Jombang, sering dilanda banjir. Jadi dengan inovasi itu, kemungkinan bisa lebih hemat dan kuat mencegah banjir,” katanya.
Mereka dengan sekuat tenaga dan inovasinya hasil karyanya menjadi input bagi pemerintah untuk menahan banjir.
“Ya mungkin juga bisa jadi masukan. Tapi kan ini masih bisnis plan. Selain itu, meski nanti di akhir kompetisi masih belum beruntung jadi pemenang finalis Jawara Pesantren, setidaknya sudah menjadi mahasiswi yang mampu berdaya saing. Semuanya dari kekurangannya kami, tetap akan kami buat jadi bahan pelajaran untuk kedepannya,” pungkasnya. (Faiz)
