Bukan sebatas spirit dan dukungan verbal, Perdamsi bersama Kolegium Kedokteran Emergency Indonesia (KKEI) juga membuka diri untuk membantu terbentuknya prodi tersebut.
Hal ini dikarenakan kebutuhan akan dokter emergensi yang tinggi, namun tidak diikuti dengan pembukaan prodi di setiap fakultas kedokteran.
“Kami berharap dapat berkontribusi untuk mewujudkan prodi dokter emergensi di setiap fakultas kedokteran,” ujarnya.
Peran Perdamsi sejauh ini sudah teruji kontribusinya di sejumlah event nasional. Mulai dari Asean Games 2016, PON di Papua, maupun saat perhelatan MotoGP di Sirkuit Mandalika, NTB beberapa waktu lalu.
Selain itu, Perdamsi juga menyoroti peristiwa meninggalnya pilot sebuah maskapai penerbangan beberapa waktu lalu. Pilot tersebut terkena serangan jantung dan berhasil mendaratkan pesawat dengan aman. Menurut Boby, seharusnya kru pesawat dilengkapi dengan kemampuan bantuan hidup dasar. Selain itu dalam pesawat idealnya juga terdapat alat picu jantung. Hal merupakan bagian standar internasional.
“Kami mendorong untuk sertiap jasa pelayanan publik menyediakan alat picu jantung, hal ini sangat dibutuhkan dalam kondisi emergensi,” katanya. (*)
