Sementara, Tim Pakar Stunting, dr.Fadila mengatakan, dari lima puskesmas yang ada di dataran Pulau Tidore, masing-masing Puskesmas Rum, Ome, Tomalou, Soasio dan Tosa sehingga dari lima puskesmas ini, terdapat 15 pasien anak yang diserahkan dari masing-masing puskesmas.
“Saya menerima 15 pasien anak yang dilakukan audit stunting terdapat delapan anak yang mengalami stunting, sehingga factor yang ditemukan oleh masing-masing anak tersebut terdapat factor resiko ibu, resiko pekerjaan orang tua yang tidak jelas dapat mempengaruhi factor ekonomi, pola asuh serta bayi berat lahir rendah, bayi tidak mendapatkan ASI eksklutif dan lain sebagainya, sehingga ini akan dilakukan intervensi dalam memberikan edukasi dari puskesmas setempat untuk mendatangkan langsung pada pasien anak yang mengalami stunting, sehingga dilakukan edukasi yang lebih baik. Selain itu juga terdapat empat kasus ibu hamil dari 30 pasien ibu hamil, yang diberikan kepada tim pakar untuk dilakukan audit,” ungkap dr.Fadila
Selain itu, Tim Pendamping Stunting Asria R Lino menyatakan, merasa bangga kepada para tim pakar maupun TPPS Kota Tidore, karena sejauh ini dari kerja yang dilakukan di Kota Tidore sangat rapi, meski terdapat sedikit keterlambatan namun semua terlihat ontrek dengan pekerjaan yang tidak ingin terlihat cepat selesai, dan terlihat tidak terlalu banyak data yang ditampilkan. Namun pekerjaan dalam penurunan stunting berjalan sesuai dengan prosedur yang terdapat dalam juknis penanganan stunting.
“Sehingga terdapat delapan kasus untuk anak dan empat kasus untuk ibu hamil, untuk itu, mari sama-sama kita berdiskusi terkait dengan rencana tindaklanjut yang nantinya dilakukan oleh tim penanganan penurunan stunting di Kota Tidore, dalam menentukan rencana yang dilakukan sebagai tata laksana untuk pasien yang sudah terkorfirmasi untuk dilakukan audit oleh tim pakar stunting, agar tim audit ini juga dapat bersinergi dengan TPPS, karena TPPS juga memiliki dua bidang yang sangat berperan penting dalam pengaudit yang dilakukan yakni bidang perubahan perilaku dan tim intervensi sensitive,” tutup Riri sapaan akrabnya. (Iswan_KanalIndonesia.com).
