Mewakili Kapolres Tidore, Waka Polres Muhammad Arifin, dalam rapat tersebut mengatakan, Saya tekankan disini, kalau bicara dampak BBM ini kita semua kena. Cuma saya minta kepada Pak Awat, agar jam operasinya jangan pakai istirahat, karena Tidore ini sudah ramai,” pungkasnya.
Sementara, salah satu pemilik SPBU H. Awat dari CV. Rusda mengatakan, saat ini, alokasi stock BBM untuk Kota Tidore Kepulauan, jenis Pertalite sebesar 80 ton/bulan, sementara pertamax 135 sampai 150 ton/bulan, solar 15 kl/bulan, untuk BBM jenis Dexlite masih kecil, dengan jenis SPBU kompak, sehingga alokasi kuota BBMnya terbatas.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perindagkop Kota Tidore Saiful Bahri mengatakan, antisipasi dampak kenaikan harga BBM ini perlu ditingkatkan pengawasan secara bersama.
Kita juga perlu adanya dukungan dari aparat kepolisian agar lebih efektif, selain pengawasan teknis, pelayanan di setiap SPBU juga perlu ditingkatkan, agar tidak terjadi lagi antrian yang panjang, begitu pula dengan tarif angkutan laut seperti feri dan tol laut juga perlu ditambah, mengingat pasokan kebutuhan pokok kita berasal dari luar.
Sementara, Kepala Dinas Perhubungan Kota Tidore Daud Muhammad, dalam kesempatan tersebut menjelaskan, kenaikan harga BBM ini berdampak besar pada sisi angkutan umum, dengan ketersediaan BBM yang terbatas, seringkali menimbulkan keluhan di kalangan sopir, dan akhirnya mereka menuntut untuk kenaikan tarif angkutan umum.
“Sekarang harga pertalite Rp. 6000 naik menjadi Rp. 10.000, harga pertamax di SPBU Rp. 14.000, di eceran Rp. 17.000, ini yang harus kita antisipasi, terjadi gejolak di angkutan umum. Dengan total jumlah kendaraan angkutan umum di Kota Tidore Kepulauan mencapai 2000 angkutan, jika stock 80 ton/bulan maka akan terjadi gejolak, karena kenaikan harga BBM ini signifikan, tarif naiknya agak jauh, saya bilang ke mereka jangan dulu naikan tarif, kita tunggu kebijakan dari Pemerintah,” ungkap Daud
Lebih lanjut Daud mengatakan, barangkali yang perlu kita tingkatkan adalah ketersediaan stock BBMnya terlebih dahulu, karena 80 ton/bulan itu sedikit sekali, sementara trip feri atau kapal laut, ia memohon agar Pemerintah Kota Tidore dapat menyampaikan ke pemerintah provinsi terkait penambahan trip feri dari 4 trip menjadi 8 trip.
Rapat koordinasi ini menghasilkan kesepatakan diantaranya, akan diadakan pertemuan lanjutan pada hari Rabu, (7/9) bersama SR Pertamina, guna membahas penambahan stock BBM untuk Kota Tidore Kepulauan, selain itu disepakati pula jam operasi SPBU, khusus untuk SPBU di Pulau Tidore buka jam 07.00 WIT (pagi) sampai dengan jam 18.00 WIT (sore). (Iswan_KanalIndonesia.com).
