“Pernyataan ini membuat kami sebagai Suku Sanger sangat terhina, jika pernyataan ini kemudian dia (Syamsul) bilang candaan, bagi saya itu bukan candaan. Jadi tidak perlu menggiring persoalan ini seolah-olah kami termakan dengan wacana yang sudah ditunggangi politik. Biarlah proses hukum yang berbicara. karena candaan Syamsul, itu sudah jelas menghina kami sebagai suku sanger,” terangnya.
Marlin yang juga merupakan Kepala Desa Siokona Kecamatan Oba Tengah ini mengatakan, candaan seorang Calon Wali kota 2024 dengan menjatuhkan suku tertentu itu sangat tidak etis, sehingga ia menduga pernyataan yang dilontarkan Syamsul mungkin bagian dari kesengajaan untuk membenturkan antara Suku yang ada di Kota Tidore Kepulauan.
“Meskipun dia sudah minta maaf, namun kasus ini harus diselesaikan oleh pihak kepolisian sampai ke pengadilan. Karena jika tidak, maka ke depan orang lain juga akan melakukan penghinaan terhadap Suku Sanger maupun suku lain yang ada di Daratan Oba. Jadi kasus ini harus diakhir lewat proses hukum,” pintanya.
Sementara, Ruslan Muhammad, salah satu pemuda Oba Tengah, mengaku jika Syamsul menganggap pernyataannya itu sebatas candaan, maka samahalnya dia telah mempermainkan masyarakat Oba dan Suku Sanger, seakan-akan warga yang tinggal di wilayah Oba ini, merupakan orang-orang yang tidak beretika dan tidak berpendidikan.
“Kami di Oba ini juga ingin maju sebagaimana daerah-daerah lain. Bukan malah dijadikan bahan candaan untuk kepentingan Syamsul maju sebagai calon Wali kota 2024,” tegasnya.
Ia menilai, jika ada oknum yang beranggapan bahwa penolakan diskriminasi ras atau golongan yang ditunjukan warga Oba dan Suku Sanger melalui aksi demonstrasi di depan polres berapa pekan kemarin, sudah disusupi kepentingan politik, sesungguhnya pikiran itu sangatlah keliru.
Karena yang membuat masalah ini sampai jadi besar itu, dari ucapan seorang Syamsul itu sendiri yang semata-mata karena mau maju sebagai calon Wali kota 2024.
“Jangan lempar batu sembunyi tangan. Sehingga pada akhirnya, dia yang buat orang lain yang disalahkan. Sudah cukup kami warga Oba dan Suku Sanger dijadikan sebagai tumbal politik, yang penuh dengan hinaan,” pungkasnya.
Disisi lain, Kepala Kecamatan Oba tengah, Junaidi Fabanyo saat dikonfirmasi mengaku, sebagai pimpinan pemerintahan dilini terbawah, apa yang dilakukan masyarakatnya tidak bisa ia larang, sebab warganya juga punya hak untuk menyampaikan aspirasi dan menuntut keadilan di mata hukum.
“Ada yang bilang aksi demonstrasi kemarin itu ditunggangi politik karena terdapat oknum ASN yang terlibat, oknum ASN yang terlibat sesungguhnya mereka adalah bagian dari masyarakat Oba, tidak terima dengan penghinaan yang disampaikan Samsul Rizal, bukan karena soal politik, karena persoalan ini tidak ada sangkut pautnya dengan politik,” tandasnya.
Junaidi menambahkan, selain mereka ASN, mereka juga warga Oba, kalau pun ada ASN dari luar daratan Oba, itu karena mereka juga tidak ingin warga Oba berjuang sendiri.
Seperti kata Camat Tidore Utara Ade Soninga beberapa waktu lalu, bahwa apa yang diucapkan Syamsul itu melahirkan keterainggungan suku, Oba juga bagian dari Tidore maka kami bersatu untuk menjaga keharmonisan.
“Jika kita tidak perduli dan membiarkan mereka berjuang sendiri, maka nantinya timbul benturan antar suku, dan kami tidak mau itu terjadi. Sebagai pimpinan di kecamatan, kami selalu berusaha menjaga keharmonisan hubungan bermasyarakat. Kami tidak mau ada ketersinggungan yang melahirkan benturan antar suku hingga menciptakan sekat-sekat. Makanya salah besar apabila dinilai sebagai aksi yang ditunggangi politik,” tutup Junaidi dengan mengutip kata Camat Tidore Utara. (Iswan_KanalIndonesia.com)
