“Tadinya ada yang terbuat dari beton. Sejak 1990 diseragamkan atapnya harus terbuat dari bambu,” terangnya.
Menurut Budiarta, keindahan alam Penglipuran yang menjadikannya sebagai destinasi wisata hanyalah sebuah bonus. Yang paling utama adalah tingginya kesadaran warga melestarikan budaya warisan leluhur.
Dalam kesehariannya, mereka menerapkan konsep Tri Hitha Karana yang menitikberatkan pada hubungan antar manusia yang saling hidup berdampingan dan saling toleransi.
