Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL NASIONAL

Presidensi G20 Indonesia Menjaga Pertumbuhan Ekonomi Nasional Tetap Stabil

Tantangan perekonomian global hingga tahun depan tidaklah mudah. Ancaman terhadap inflasi yang diikuti pengetatan keuangan global, krisis pangan dan energi mendorong perlambatan ekonomi global. Sejumlah nilai tukar di Asia termasuk rupiah mengalami pelemahan karena US dollar yang terlalu kuat. Kenaikan suku bunga Federal Reserve yang agresif telah menyebabkan dollar menguat cukup kuat terhadap sejumlah mata uang di dunia.

Kedepan, kata Dody, kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral akan pro stabilitas dan menekan inflasi sesuai dengan target yang ditetapkan. Inflasi inti akan dibawa menuju sasarannya pada kuartal dua 2023. Target inflasi Indonesia sepanjang 2022 hingga 2023 ditetapkan sekitar 2% – 4%.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Oktober sebesar 5,71%, secara tahunan. Secara akumulasi sejak Januari hingga Oktober, inflasi telah mencapai 4,73%. Sedangkan inflasi inti sebesar 3,31% pada Oktober.

Operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang, sejalan dengan kenaikan suku bunga acuan akan ditempuh untuk membawa inflasi kepada sasarannya. Kebijakan lainnya yang mendukung pertumbuhan akan ditempuh melalui kebijakan makroprudensial yang akomodatif dalam mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Menciptakan sistem pembayaran yang efisien, cepat, lancar dan aman. Kebijakan pendalaman pasar keuangan untuk meningkatkan nilai transaksi pasar keuangan sebagai sumber pembiayaan ekonomi.

Demi menjaga stabilitas nilai tukar, BI, kata Dody, berkomitmen untuk menempuh tiga langkah intervensi atau triple intervention yakni melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF) dan pasar obligasi yakni penjualan dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

Sepanjang Juli – September 2022, perekonomian tumbuh sebesar 5,72% secara tahunan. Sumber pertumbuhan terbesar berasal dari kinerja ekspor barang dan jasa sebesar 5,21%, konsumsi rumah tangga sebesar 2,81% dan kinerja investasi sebesar 1,57%. Bila dilihat dari sumber pertumbuhan menurut pulau, yang terbesar masih disumbangkan oleh Jawa sebesar 3,37%, Sumatera 1,01% dan Sulawesi sebesar 0,55%.

‘’Kami tidak melihat ada ancaraman resesi terhadap Indonesia, sebab pertumbuhan ekonomi hingga kuartal ketiga mencatatkan pertumbuhan yang positip, tidak terjadi kontraksi,’’ kata Managing Director PT Samuel International. Namun memang ada risiko perlambatan ekonomi secara global termasuk Indonesia pada tahun depan, tapi tidak akan parah hingga menimbulkan resesi di Indonesia, paparnya.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita