Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL BUDAYA DAN WISATA

Tim Ekspedisi Mistis PDI Perjuangan NTB Sebut Lombok Layak Punya Museum Arkeologi Sejarah Peradaban Suku Sasak, Ini Alasannya

Terkait tentang partisipasi masyarakat dan publik tersebut, Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto mengatakan, partisipasi masyarakat tersebut di Museum Trowulan tidak hanya mewujud dalam menyerahkan bukti-bukti arkeologi yang mereka miliki. Namun juga dalam partisipasi lain yakni dalam bentuk visualisasi sejarah peradaban masa lampau di lingkungan tempat tinggal mereka.

Mantan Eksekutif Daerah WALHI NTB dua periode yang karib disapa Didu ini menjelaskan, Museum Trowulan berada di tengah-tengah Situs Trowulan, yang diyakini merupakan pusat Kerajaan Majapahit di masa lampau.

Kini, masyarakat yang bermukim di dalam kawasan ini, dengan sepenuh hati membangun gapura dan tembok-tembok, dan dinding rumah mereka, menyerupai kemegahan perumahan masyarakat Kota Raja Majapahit pada masa kejayaannya.

“Gapura, tembok-tembok rumah milik masyarakat di dalam Situs Trowulan ini rata-rata dibangun dengan susunan bata merah. Seperti halnya rumah-rumah warga Kota Raja Majapahit yang mengalami masa kejayaan pada tahun 1350 hingga 1389 Masehi,” kata Didu.

Alhasil, kata dia melanjutkan, keberadaan gapura, tembok-tembok, dan dinding rumah milik warga tersebut telah menjadi atraksi tersendiri bagi para pengunjung Museum Trowulan. Sehingga mereka yang berkunjung ke museum pengetahuannya akan dilengkapi dengan secara tidak langsung mendapatkan aura kehidupan masyarakat Majapahit di masa lampau.

“Dengan partisipasi masyarakat seperti ini maka museum arkeologi akan jauh dari kesan kuno, membosankan, apalagi menjadi tempat angker. Justru sebaliknya, museum arkeologi akan menjadi pusat ilmu pengetahuan yang komplet bagi generasi masa kini,” imbuh Didu.

Untuk diketahui, dari berbagai literatur penelitian diketahui, Raja Majapahit tinggal di istana yang dikelilingi tembok bata merah setinggi lebih dari 10 meter dengan gapura ganda. Bangunan yang ada dalam kompleks istana memiliki tiang kayu yang besar setinggi 10-13 meter dengan lantai papan yang dilapisi tikar yang halus sebagai alas duduk. Adapun atap bangunan istana terbuat dari kepingan kayu atau sirap.(dan_kanalindonesia.com)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita