Oleh karena itu, lanjutnya, bisa dipahami apabila secara politik dalam pemilihan presiden tidak mudah untuk menarik massa NU. Yahya Staquf bahkan berkali-kali mengatakan NU tidak berurusan dengan politik. Dia ingin membangun jarak. Kalau mau disebut dekat, ya dekat dengan semuanya. Kalau mau jauh, ya jauh dengan semuanya. Tidak ada hubungan khusus secara politik antara NU dengan semua partai politik, termasuk dengan PKB. Walaupun PKB didirikan oleh KH Abdurrahman Wahid dan sejumlah kiai senior NU.
“Massa NU adalah massa yang cukup independen, tidak bisa dengan mudah dimobilisasi dengan mengatakan ini tokoh NU,” kata Guru Besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini.
Dalam pelbagai survei, ada tiga tokoh yang kompetitif untuk pemilihan presiden: Anies, Ganjar, dan Prabowo. Ketiga tokoh ini secara kultural bukan orang NU. Walaupun mereka mungkin melakukan praktik ritual keagamaan seperti orang NU, tapi secara formal mereka bukan anggota NU.
Saiful memberi catatan bahwa pada survei ini, Anies kurang kuat di jamaah NU. Karena itu, jika ada upaya untuk menarik tokoh NU seperti Khofifah Indar Parawansah untuk bergandengan dengan Anies, itu cukup masuk akal karena bisa saling melengkapi.
Saiful menambahkan bahwa data ini menarik karena memperlihatkan bagaimana orang NU lebih memilih Ganjar yang nasionalis dibanding Anies yang lebih dekat ke kelompok Islam. NU adalah organisasi santri, sementara Anies terlihat lebih santri daripada Ganjar, tapi anggota organisasi santri ini justru lebih memilih tokoh yang bukan santri.
Saiful menjelaskan bahwa sejak awal NU lebih dekat dengan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) daripada dengan partai Islam seperti Masyumi. NU juga lebih dekat dengan PNI daripada dengan Muhammadiyah. Bahkan dalam sejarahnya, awalnya NU adalah bagian dari Partai Masyumi, namun kemudian keluar menjadi partai tersendiri. Saiful menyebut bahwa tahun 60-an, NU adalah salah satu partai andalan Soekarno. Masyumi dibubarkan oleh Bung Karno, tapi Partai NU tidak. Bahkan menjadi semacam partnernya. Sejumlah tokoh NU bahkan pernah punya gagasan untuk menjadikan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup. Ada sentimen dan kedekatan kultural antara NU dan kekuatan politik nasionalis.
Kemungkinan penjelasan lain terhadap kedekatan NU dengan kelompok nasionalis, menurut Saiful, adalah karena baik tokoh-tokoh NU maupun tokoh-tokoh partai nasionalis seperti PNI atau PDIP berpusat di Jawa. Masyumi kurang berpusat di Jawa. Demikian pula dengan Muhammadiyah, walaupun lahir di Yogyakarta, lebih dominan di luar Jawa. Secara kultural kelompok Islam di luar Jawa tidak berafilisai politik dengan NU, tapi dengan partai lain seperti Masyumi, PPP, atau PAN.
Saiful menegaskan bahwa tipologi santri tradisionalis dan modernis cukup kuat. Dua kecenderungan ini, menurut dia, tidak mudah bersama-sama. Ini salah satu penjelasan mengapa orang NU cenderung memilih Ganjar yang nasionalis dibanding Anies yang dekat dengan kelompok santri modernis.
“Kita melihat orang NU, secara politik, lebih bisa bekerja sama dengan orang nasionalis ketimbang dengan orang modernis,” jelas penulis buku Muslim Demokrat itu.
Sementara anggota aktif Muhammadiyah juga cenderung memilih Ganjar 46 persen, disusul Anies 33 persen, dan Prabowo 14 persen. Berbeda dengan NU, pada anggota Muhammadiyah, pemilih Anies lebih banyak dibanding Prabowo Subianto.
