Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Dari Naturalisme ke Artificial Intelligence

Corak Naturalistik

Di Minangkabau (baca: Sumatra Barat), naturalistik diperkenalkan kepada kaum pribumi di Hindia Belanda oleh para pelukis Belanda atau bangsa Eropa lainnya baik belajar secara pribadi maupun, melalui pendidikan menggambar/melukis di Kweek School.

Naturalistik awalnya berasal dari aliran Barbiinzon di Perancis. Lukisan naturalistik (pemandangan alam) merupakan kesukaan masyarakat kelas menengah (borjuasi) di Eropa.

Lukisan bercorak naturalistik muncul bersamaan dengan perkembangan kelas menengah, yaitu kelas masyarakat yang berlatar belakang saudagar dan pengusaha yang kurang menyukai lukisan yang menggambarkan adegan cerita dari Injil sebagai ciri lukisan abad pertengahan di Eropa.

Corak ini berawal dari munculnya pergeseran cara pandang dari the age of authority menjadi the age of reason yang membawa pengaruh besar terhadap perubahan sosial pada masa neoklassisme di Eropa.

Sebuah babak baru memunculkan terjadinya pertentangan sosial antara kaum bangsawan dengan kaum borjuasi. Kaum borjuasi lebih memilih lukisan bercorak naturalistik (Pemandangan Alam).

Corak yang berasal dari aliran Barbiinzon Perancis inilah yang dibawa oleh para pelukis Belanda ke Hindia Belanda (Indonesia) pada abad ke-19.

Tokoh-tokoh naturalis seperti Raden Saleh, Abdullah Suryosubroto, Mas Pirngadie, Wakidi dan Basuki Abdullah adalah penggerak corak Naturalis di Indonesia.

Tebaran corak naturalistik sebagai bentuk modernitas seni rupa di Sumatra Barat dipelopori oleh pelukis pada Wakidi pada tahun 1940-an.

Dalam perjalanannya hingga sekarang, Wakidi melahirkan para murid-muridnya yang dikenal dengan istilah Wakidian. Corak Naturalistik menjadi satu-satunya corak dalam perkembangan seni lukis modern periode awal perjalanan seni rupa Sumatera Barat.

Salah seorang Wakidian yang hingga saat ini masih aktif berkaya adalah pelukis Minda Sari yang pada saat ini menjadi salah satu peserta pameran Lintas Masa Minangkabau International Literacy Festival.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita