Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Dari Naturalisme ke Artificial Intelligence

Artificial Intelligence (AI Arts)

Pesan-pesan spritualitas juga sangat terasa pada karya-karya artificial intelligence (AI Arts) oleh Denny JA.

Proses berkarya bagi Denny JA, sepertinya merupakan sebuah media kontemplasi sekaligus penyeimbang ditengah hiruk pikuk kehidupannya sebagai seorang konsultan, enterpreneur, dan peneliti.

Spiritualitas dalam berkarya Denny JA tidak terlepas dari pengaruh berbagai karya maestro dunia di era impresionis seperti Van Gogh, Monet, dan para maestro dunia lainnya.

Perjalanan batin yang ia rasakan saat menikmati karya para maestro dunia tersebut ternyata memberikan pengaruh besar dalam proses kreatifnya.

Pada pameran Lintas Masa ini, Denny JA mencoba membawa kita menyusuri perjalanan kontemplatif ke dalam ruang batin dengan menghadirkan atmosfer dari lukisan-lukisan impresionis para maestro dunia lewat sentuhan teknologi artificial intelligence.

Akan halnya lingkup senirupa berbasis artificial intelligence yang menjadi fenomena baru dalam perkembangan senirupa modern saat ini, tentu sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut.

Teknologi digital membuat batasan pada klasifikasi seni menjadi semakin baur. Seperti halnya ketika awal berkembangnya seni fotografi, keterlibatan Artificial intelligence dalam dalam dunia seni menimbulkan berbagai pertanyaan dan melahirkan diskursus panjang.

Disatu sisi, khususnya para pelaku seni rupa mempertanyakan apakah karya yang dihasilkan AI merupakan karya seni.

Pertanyaan ini tentunya berdasarkan bahwa, karya seni dibuat dengan jiwa dan emosi pekaryanya, hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Senada dengan pendapat ini, sebagian orang menganggap bahwa seni tidak selalu bergantung pada apa yang didapatkan oleh audiens ketika mengapresiasinya.

Sisi lainnya berpendapat bahwa, AI hanyalah sebagai media atau alat yang dimanfaatkan oleh seniman dalam menuangkan berbagai ide dan gagasan. Dan hasil karya yang di buat dengan media AI tetap memiliki emosi dan jiwa berdasarkan si pembuatnya.

Disadari atau tidak, penggunaan AI dalam bidang seni kreatif sudah menjadi hal wajar untuk sebagian besar orang. Fitur-fitur yang sering kita jumpai di perangkat lunak penyunting gambar seperti penghalus garis, penajam gambar, sampai ke penghapus latar belakang otomatis merupakan salah satu sistem kecerdasan buatan yang dapat memudahkan manusia di bidang seni kreatif.

Salah satu hal yang menjadi batasan utama AI dalam menciptakan sebuah seni adalah ketidakmampuan-nya untuk memahami dan menginterpretasikan pengalaman manusia.

Meskipun AI dapat menganalisis dan belajar dari sejumlah data yang besar secara cepat, AI tidak memiliki kemampuan untuk berempati dan memahami kompleksitas dari kondisi manusia.

Artinya, ide kreatif dan solusi yang dihasilkan oleh AI akan cenderung memiliki keterbatasan pada kedalaman emosional dan nuansa yang menjadi ciri khas pemikiran terbaik manusia.

Namun terlepas dari segala polemik tentang kehadiran artifical intelligence dalam senirupa, seni adalah sebuah media penyampai pesan, konsep atau gagasan yang dinarasikan oleh senimannya.

Pemikiran, perenungan dan berbagai pengalaman spiritual yang terangkum dalam perjalanan hidup tentunya dapat diabadikan dalam berbagai media.

Pada akhirnya keberhasilan sesungguhnya bagi seorang seniman adalah ketika pesan atau narasi yang disuguhkan dalam karya-karyanya dapat dirasakan dan menyentuh sanubari para penikmatnya.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita