Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Banyak Harapan Kepada ICMI di Tahun Politik

Oleh: Ulul Albab, Ketua Icmi Orwil Jatim.
Penulis adalah Ulul Albab (mantan rektor unitomo 2007-2013).

Di hari H-8 jelang Silakwil ICMI Jatim ini, saya secara khusus akan membahas apa dan siapa ICMI. Sekaligus untuk menjawab banyak pertanyaan yang belakangan sering muncul, terkait dengan tahun politik 2023-2024 ini.

Banyak dari kalangan teman-teman media ingin tahu apa yang akan dilakukan ICMI di tahun politik ini? Bahkan ada pertanyaan yg sangat menjurus ke pencalonan. Siapa calon presiden yang bakal didukung ICMI?

Pertanyaan terakhir tadi sebetulnya banyak juga disampaikan oleh teman-teman di internal ICMI kepada saya. Tentu saya tidak tahu arahnya kemana pertanyaan tersebut. Saya hanya menduga-duga bahwa di tahun politik 2023-2024 ini banyak yang berharap ICMI mengambil peran. Tidak diam saja seperti tahun-tahun politik sebelumnya. Sebuah dugaan yang masuk akal, setidaknya menurut saya.

Mengapa demikian?

Karena jika kita telusuri sejarahnya, jejak digital ICMI dalam peran politik di negeri ini sangat-sangat gamblang. Bahkan pernah sangat menentukan. Struktur kabinet pun sangat diwarnai oleh tokoh-tokoh ICMI. Bahkan anggota kabinet dari unsur luar ICMI pun, masuknya karena referensi dan rekomendasi ICMI. Begitulah kira-kira gambaran sepintasnya betapa ICMI pernah menentukan dalam perpolitikan nasional.

Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Seiring menyurutnya peran pak Habibie – sebagai tokoh sentral ICMI – dalam perpolitikan nasional, berangsur-angsur surut pulalah peran ICMI dalam perpolitikan nasional.

Sebenarnya apa dan siapakah ICMI itu?. Sejak didirikannya di kota Malang – tepatnya di kampus Universitas Brawijaya (UB) – pada hari jum’at tangal 20 jumadil awwal 1441 H, bertepatan dengan tanggal 07 Desember 1990, ICMI sama-sakali tidak dimaksudkan menjadi organisasi politik. ICMI didirikan sabagai organisasi massa biasa. Sebagai kekuatan Masyarakat Madani (Civil Society), yang berpartner dengan siapa saja untuk mendorong terselenggaranya Good Governance.

Sebagai wadah cendekiawan muslim, organisasi ICMI berasaskan Islam dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila. Visi ICMI adalah ”Menjadi organisasi cendekiawan yang mendorong terwujudnya kekuatan imtaq dan iptek umat bagi terwujudnya masyarakat yang maju, adil, dan sejahtera”.

Ada 5 missi yang diperjuangkan ICMI; (1). Meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan melalui pembinaan akhlakul karimah; (2). Meningkatkan kualitas pikir melalui peningkatan kualitas sistem dan proses pendidikan. (3). Meningkatkan kualitas karya dan kerja melalui peningkatan kualitas sistem dan proses pelatihan.

(4). Meningkatkan kualitas hidup melalui pemberdayaan kegiatan sosial dan ekonomi umat, kesehatan, serta karya dan kinerja litbang yang berkualitas; (5). Meningkatkan kualitas keluarga dan keturunan melalui pembentukan keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Adapun tujuan ICMI adalah untuk mewujudkan Tata Kehidupan Masyarakat Madani yang diridhoi Allah dengan Meningkatkan Mutu: (a). Keimanan & Ketaqwaan; (b). Pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. (c). Kecendekiawanan, dan (d). Meningkatkan peran serta cendekiawan muslim dalam berbagai sektor.

Dengan rumusan visi, misi, tujuan tersebut maka jelaslah ICMI tidak memposisikan diri untuk berperan dalam bidang politik melebihi peran dan fungsi partai politik. ICMI lebih mengarah kepada upaya peningkatan kualitas ummat Islam, baik kualitas SDM-nya maupun kualitas peransertanya dalam terlibat langsung memperbaiki situasi dan kondisi.

Dilhat dari sifatnya. ICMI adalah organisasi kemasyarakatan yg bersifat Keterbukaan, Keilmuan, Keislaman dan Keindonesiaan.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita