Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Puisi Denny JA di Makamku

Fariduddin Attar (1145-1220), dalam kitab Manthiq al-Thair menggambarkan para pencari Tuhan sebagai kawanan burung yang hendak menemui rajanya. Simorgh, si raja burung itu, posisinya entah di mana. Kawanan burung yang hendak mencari Simorgh, pergi ke mana-mana ke dasar lembah dan puncak gunung; ke dalam samudera dan atas langit, tapi tak menemukannya. Ternyata di ujung pencariannya, setelah mereka lelah dan pasrah, kawanan burung itu menemukan Simorgh ada dalam dirinya.

Fabel tentang kawanan burung yang mencari rajanya karya Attar itu mirip dengan puisi tentang Tuhan karya Ibn Arabi. Dalam puisinya, Ibn Arabi mengaku mencari Tuhan di masjid, gereja, dan vihara. Ternyata, Tuhan tak ada di sana. Tuhan ada di hati manusia.

Banyak puisi esai Denny JA mengeksplorasi pencarian Sang Raja. Tulisan Denny, esai atau puisi, jumlahnya sudah mencapai ratusan buku. Dan sampai hari ini terus membanjiri jagad maya. Tiap hari tulisan Denny muncul tanpa lelah di sosial media.

Mumpung jelang puasa Ramadhan tahun 2023, aku ingin menyimak buku puisi Denny JA berjudul “Jiwa Yang Berzikir”. Buku ini kumpulan 30 puisi mini yang ditulis Denny setiap sahur di bulan Ramadhan tahun 2018. Di sahur pertama Ramadhan 2018, Denny menulis puisi esai berjudul:

Aku Kembali padaMu

Dia yang awam, yang tak paham
Dilihatnya langit sebagai langit
Dia yang resah, tak henti mencari
Dilihatnya langit tak lagi langit
Dia yang mencari dan menemukan
Baginya langitpun kembali langit.

Darta terdiam, Darta termangu
Jauh sudah ia berkelana.

Telah ia lezatkan lara dan sendu
Telah ia selami dalamnya makna
Kini ia kembali ke titik mula.

Ya Allah, kuhirup sudah
Nikmat harta, samudera ilmu
Belum jua dada membasah
Jiwa menganga oleh rindu.

Batin meronta lebih meminta
Adakah makna di jauh sana?
Masih adakah puncak menggoda?
Inikah cuma dari segala?

Serasa semua tawar belaka
Kilau segala menjadi biasa
Harimau batin mengaum mencakar
Di rimba jiwa menghutan lapar.

Darta mengembara Darta berkelana
Ke barat ke timur, selatan dan utara
Ke sungai ke laut, ke bukit ke lembah
Luka yang dibawa makin membara.

Harimau di nadi terus mencakar
Masa pergi, masa datang, semua terbiar
Hampa, tiada makna
Musim kemarau musim penghujan
Sangsai, sia-sia
Dicari di sini digali di sana
Hanya tiada yang ada.

Lima puluh kali matahari
Beredar sejak terlahir sebagai bayi
Lima puluh tahun sudah
Usianya dan kelak bertambah.

Di lembah nestapa di puncak resah
Ada cahaya berjingkat mendekat
Ada suara lamat-lamat.
“Bacalah!
Bacalah atas nama batinmu
Bacalah lewat kalbu”

Dan dalam termangu, dibacanya doa
Seperti dulu. Doa pertama,
yang diajarkan Ayah, menjelang senja
Lima tahun saat itu usianya.
Duduk berdua, di sudut beranda.

Ihdinaashshiraathalmustaqiim
shiraathalladziinaan’amta’alayhim
ghayrilmaghdhuubi’alayhim
walaadhdhaalliin
Amiin.

Dulu tiap hari tiap waktu
Ia baca doa itu.

Dipinta Ayah dipinta Ibu.
Dipinta Nenek, kakek, dan guru.
Dipinta sekolah, dipinta madrasah
Hingga tiba satu masa
Darta berontak ingin merdeka

Ia berteriak: Tidaaaaakk!!!
Dalam pengap dan sunyi
Pada langit dan bumi.
Darta pun tumbuh dewasa.
Ilmu menjadi kacamata
Dilacaknya realitas di balik doa
Ia selami filsafat, sejarah, dan sastra
Ia tekuni ilmu mumpuni
Khasanah sains dan teknologi.

Ternyata, ternyata, ternyata,
Bukan Tuhan yang mencipta manusia.
Tapi manusia yang ciptakan Tuhan-nya!

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita