Sejak itu, doa itu dirobek-robeknya
Serupa mainan kanak yang mesti dilupa
Bukankah ia manusia dewasa?
Mainan kanak tak bisa menipunya!
Tapi kini, di dini hari usia
Ia bukanlah Darta muda
yang merasa gagah dewasa,
tapi Darta yang perlahan menua
Darta yang telah mengembara
Dan kembali ke titik mula.
Darta yang kosong, sunyi, hampa
Jantung menjerit merindu takwa
Dalam keluh ingin teguh
Berserah diri penuh seluruh.
Doa itu tiba
Tanpa diminta siapa-siapa.
Berdenyut di nadi, bergema di dada
Pelan menetes bersama airmata.
Tuhanku
Izinkan si anak hilang
Kembali pulang
Ke rumah kasih-Mu.
Itulah puisi sahur pertama Denny JA di Ramadhan 5 tahun lalu. Selama bulan puasa itu, ia menulis 30 puisi esai yang sangat indah. Tentang manusia dan Tuhannya; tentang cinta dan duka; tentang mushala dan gereja; tentang api dan sepi; tentang toleransi dan benci, dan tentang segalanya yang menerpa hati.
Lalu, siapa sosok Darta dalam 30 puisi mini “Sahur Ramadhan” Denny itu? Sang Budha Sidarta Gautama yang meninggalkan istana untuk mencari makna hidup? Bisa jadi, ya. Tapi Darta juga bisa aku, kamu, dan kita semua.
Akhirnya, bila Budiman Sudjatmiko di saat kematiannya ingin diiringi lagu-lagu Koes Plus dengan segala romantikanya, sunggguh aku dalam suasana yang sama, ingin dibacakan 30 puisi mini dari buku “Jiwa yang Berzikir” karya Denny JA. Aku membayangkan di alam sana, betapa indahnya pembacaan puisi sufistik karya Denny bila diiringi lantunan shalawat Nabi dari Gus Aldi!
