Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Menimbang Untung Rugi Ekonomi Indonesia Pasca Pandemi

Kini, Indonesia dihadapkan pada era baru, era pasca pandemi, bagaimana Indonesia memulihkan kondisi ekonomi di kala pasca pandemi? Berdasarkan data World Bank, pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak pandemi Covid-19 menjadi suatu tantangan tersendiri, di tengah situasi global yang tidak stabil. Tercatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat pada akhir tahun 2021, mencapai angka sebesar 3,7%, kala itu Indonesia baru saja keluar dari gelombang varian Delta yang berlangsung pada bulan Juli-Agustus 2021.

Capaian positif tersebut, terus terbawa hingga triwulan pertama tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat menjadi 5% (YoY). Tak berselang, pada akhir bulan Februari, konflik Rusia-Ukraina turut memukul kondisi ekonomi global melalui berbagai kebijakan pembatasan perdagangan internasional. Mau tidak mau bahwa Indonesia turut menerima dampak tersebut akibat ketidakstabilan politik global yang mempengaruhi pemulihan sektor ekonomi.

Indonesia menghadapi kenyataan bahwa kenaikan harga dan pengetatan keuangan dari sisi eksternal menjadi tantangan di kala usaha Indonesia sedang memulihkan ekonominya. Akan tetapi, dampak positif turut dirasakan Indonesia, dengan adanya konflik tersebut, nyatanya Indonesia menerima peningkatan nilai ekspor dan fiskal akibat perbedaan nilai tukar relatif Indonesia yang lebih rendah dibanding negara maju yang lain.

Terlepas dari bayang-bayang pandemi, bukan berarti Indonesia dengan leluasa dapat segara memulihkan dampak yang terjadi pada sektor ekonomi. Sejumlah lembaga multinasional, seperti International Monetary Fund (IMF), World Bank, maupun lembaga ekonomi besar dunia telah menggambarkan bahwa ekonomi global akan mengalami perlambatan, kenaikan tingkat inflasi, bayang-bayang resesi, hingga kabar bahwa Amerika Serikat terancam gagal bayar hutang, yang tentu akan sangat berdampak pada skala ekonomi global.

Pada awal tahun 2023, World Bank memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini sebesar 2,9%. Angka proyeksi ini, masih lebih baik daripada hasil proyeksi dari International Monetary Fund (IMF), hanya sebesar 2,7%. Dalam catatan yang berbeda, Fitch Ratings, bahkan dengan yakin memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi global tidak lebih dari 1,4 persen, sementara itu Moody’s memproyeksikan ekonomi global sebesar 2,3 persen.

Dengan perkiraan ini, maka dapat dikatakan bahwa kondisi ekonomi global belum sepenuhnya menunjukkan kondisi yang baik. Meski lebih tepat disebut perlambatan ekonomi, kondisi ekonomi dunia cukup berat. Cukup jauh dari tren jangka panjang, yaitu rata-rata sekitar 3,8%. Angka ini menegaskan bahwa perlambatan ekonomi juga disertai dengan harga tinggi, sehingga sulit dilakukan langkah kontrasiklikal yang kuat untuk mendorong perekonomian dunia.

Meskipun berbagai proyeksi menegaskan bahwa akan terjadi resesi, namun kondisi ekonomi global di tahun 2023 diperkirakan masih lebih baik jika dibandingkan dengan krisis sebelumnya. Seperti pada tahun 2020, resesi terdekat yang pernah terjadi, ekonomi global sempat terkontraksi sebesar 3,0%.

Dalam konteks resesi sendiri, ada perbedaan dalam mencermati resesi global dengan resesi suatu negara. Resesi yang lebih luas jika penurunannya signifikan. Belum tentu juga bahwa suatu negara yang mengalami resesi, akan terus mengalami kontraksi pertumbuhan ekononominya sepanjang tahun berjalan.

Ekonomi Indonesia 2023 : Antara Optimis dan Realistis

Lembaga keuangan dunia memproyeksikan bahwa perekonomian global akan menghadapi tantangan berat di tahun 2023 mulai terbukti. Di tengah melemahnya ekonomi global tersebut, Indonesia tetap menunjukkan capaian yang positif dan tumbuh secara resilien.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita