PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Jiwa agama dan cinta akan budaya merupakan hal yang sangat melekat pada diri Mbah Mujab Thohir. Dengan kepribadianya yang memiliki keilmuan di bidang agama serta kecintaanya terhadap seni budaya, membuat nama Mbah Mujab Thohir sangat familiar di kalangan masyarakat Ponorogo. Jiwa cinta akan budaya tersebutlah yang memberikan isi perbedaan di antara kyai-kyai yang lain, sehingga Mbah Mujab Thohir sangat dikagumi banyak orang dengan keunikan yang dimilikinya dalam menyebarkan syariat Islam di Ponorogo.
KH. Mujab Thohir lahir pada 16 November 1924 yang merupakan putra terakhir dari lima bersaudara yaitu Muhammad, Ismail, Ahmad, dan Idris.
Mbah Mujab Thohir merupakan putra dari Kyai yang bernama Mbah Kyai Thohir, seorang pengasuh Pondok Pesantren di Mojoroto. KH. Mujab Thohir menikah di usia yang cukup tua. Dari istrinya, Hj. Nurhayati mempunyai tiga anak yaitu Muhammad Widda Johan, Mila Juwita, dan Masriya Kumala.
KH. Mujab Thohir merupakan tokoh agama yang suka menulis. Dalam setiap tulisannya selalu menggunakan inisial Mumosupo, yang merupakan singkatan dari Mujab Thohir Mojoroto Sumoroto Ponorogo. Selain suka menulis KH. Mujab Thohir pada masa mudanya turut berjuang melawan penjajah dengan bergabung Hizbullah saat peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Kemudian juga berperan dalam peristiwa penumpasan pemberontakan PKI 1948 di Madiun. Dan perlu diketahui bahwa Mbah Mujab Thohir merupakan veteran dengan pangkat terakhir mayor.
KH. Mujab Thohir merupakan santri dari Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ari selama 7 tahun. Dan bisa menjadi murid dari Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy’ari karena jaringan persahabatan yang dimiliki Ayahandanya, Mbah Thohir dengan KH. Hasyim Asy’ari. Keduanya merupakan teman seperguruan ketika menimba ilmu di Mekah, akan tetapi keduanya berbeda jurusan. KH Hasyim Asy’ari berada di bidang agama murni sedangkan Mbah Kyai Thohir mendalami ilmu di bidang Alquran dan tasawuf.
Sebelumya, KH. Mujab Thohir menuntut ilmu di Pondok Pesantren Kedungpanji, Lembeyan, Magetan, kemudian berpindah ke pondok pesantren Joresan lalu baru pindah ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Kisaran akhir tahun 1945 KH. Mujab Thohir kembali ke Ponorogo, berperan di bidang agama dengan berafiliasi bersama Nahdlatul Ulama dan turut berjuang dalam membesarkan nama Nahdlatul Ulama di Ponorogo. KH. Mujab Thohir sendiri terinspirasi dengan gaya dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo, yaitu dengan menggunakan filosofi menangkap ikan di dalam kolam tanpa membuat keruh airnya. Mbah Mujab Thohir sering diminta untuk mengisi pengajian di pelosok-pelosok desa. Kebiasaan unik ketika berceramah dilakukanya yaitu selalu mengajak para jamaahnya untuk mengamalkan Alamtaro dengan tarmihim 11x. Hal tersebut dilakukanya dengan tujuan untuk menghancurkan musuh-musuh yang ingin memporak-porandakan umat Islam di waktu itu.
Peran keagamaan di bidang pendidikan Mbah Mujab Thohir ditampung oleh seorang milyuner atau orang yang memiliki banyak aset yaitu Mbah Idris, yang mana Mbah Idris tersebut ingin memiliki jariyah berupa pondok pesantren dan masjid, yang selanjutnya KH. Mujab Thohir menginisiasi untuk mendirikan masjid dan pondok pesantren bersama Mbah Idris yang sampai sekarang pondok pesantren tersebut masih dikenal dengan nama pondok pesantren Al Idris.
