Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL FEATURED

Mengenal Mbah Mujab Thohir, Kyai Berjiwa Budayawan

Setelah meletusnya Gestapu pada tahun 1965 kesenian reog mengalami kemunduran. PKI dinyatakan sebagai partai terlarang, akibatnya banyak anggota BRP yang terbunuh bahkan ada pemilik yang membakar semua perangkat reognya. Selama 2 tahun masyarakat takut untuk memainkan reog, karena takut kalau dikira menjadi simpatisan dari PKI. KH. Mujab Thohir merasa bahwa masyarakat Ponorogo masih trauma akan kesenian reog. Akhirnya KH. Mujab Thohir berinisiatif untuk membuat kesenian baru berupa gajah-gajahan. Kesenian baru ini terinspirasi dari surat al-fiil yang bercerita tentang usaha pasukan gajah Raja Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah. Pada awalnya kesenian gajah-gajahan ini tidak digunakan untuk kesenian umum akan tetapi sebagai propaganda politik partai Islam di kala itu.

Melihat kondisi yang sangat kacau pada saat itu dan demi menjaga kelestarian reog serta memberantas keonaran, maka Bupati Sumadi bekerja sama dengan KH. Mujab Thohir. Pada hari Sabtu Pahing tanggal 19 Februari tahun 1976 Bupati Sumadi memanggil tokoh-tokoh warok seperti Mbah Mardi, Ngainan Tunggul. Ahmad Tobroni Kancil, Pak Wari Pulung, Tukijo Bungkal, Mbah Kasni Gunopati, Megok dll. Para Warok tersebut dijadikan anggota dari sebuah komunitas yang diberi nama oleh KH. Mujab Thohir dengan nama INTI (Insan Taqwa Illahi), yang kemudian Mbah Mujab Thohir dijadikan ketua warok inti dengan harapan supaya para Warok bisa belajar dan mencontoh perilaku-perilaku yang diajarkan oleh KH. Mujab Thohir.

Sampai akhir era orde baru pada tahun 1998, warok INTI masih eksis di bawah kekuasaan Bupati Markum Singodimedjo. Bahkan pada saat reformasi menguap ke permukaan pada bulan Mei 1998 warok INTI ikut membantu mengamankan demonstrasi mahasiswa di Ponorogo supaya tidak terjadi anarkisme. Warok INTI kemudian mulai melemah pasca reformasi, karena sebagian besar pengurusnya sudah berusia lanjut dan berbagai faktor lainnya.

KH. Mujab Thohir kemudian fokus dalam mengurus pondok pesantren dan pemerhati kebudayaan di Ponorogo sampai tutup usia. KH. Mujab Thohir tutup usia pada tanggal 22 Januari 2003. Pihak Pemda Ponorogo berkeinginan agar jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Namun telah dimusyawarahkan dengan keluarga almarhum, akhirnya disepakati jenazah KH. Mujab Thohir dimakamkan di Mojoroto, Sukorejo, Ponorogo. (Lukman Alifi/ MG/ Arso)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita