“Ernawiyati (Penulis MIJIL -red) yang berlatar belakang pendidikan S1 teknik telekomunikasi justru bisa memperkaya hasil tulisan jika terjun ke dunia sastra. Untuk bisa menulis seseorang harus rajin mencoba menulis dan banyak membaca untuk menstimulus otak kita. Menulis adalah suatu hal yang bisa dipelajari. Kita hidupkan terus karakter tokoh-tokoh dalam tulisan di kepala kita.
Di MIJIL, Erna melakukan itu, meski Erna tidak mengalami langsung, tokoh-tokohnya cukup hidup, dia terus mengolah pembentukan karakter agar kuat melalui wawancara dengan orang-orang yang mengalami peristiwa langsung lalu diolahnya menjadi cerita fiksi. Metoda yang biasa dilakukan oleh penulis berbasis jurnalis seperti Leila Salikha Chudori.
Jadi MIJIL adalah fiksi yang faktual. Ada peristiwa nyata sebagai latar belakang. Tantangannya cukup kompleks, adanya jarak antara penulis dengan peristiwa yang tidak dialaminya langsung. Erna mensiasatinya melalui mengemasnya dengan bumbu percintaan-percintaan. Saran saya jangan terlalu ambisius, jangan terlalu boros dengan bumbu.
Saya sangat mengapresiasi semua karya baru termasuk MIJIL. Penulis harus terus bergerak untuk menjangkau lebih banyak lagi pembaca sebagai tanggung jawab pribadinya. Erna harus memanfaatkan momentum ini, niat dan disiplin itu yang paling penting,” ujar FX Rudy Gunawan saat membedah novel MIJIL.
Dyah Kartika Rini yang merupakan pegiat literasi digital saat membedah buku novel MIJIL menyampaikan bahwa, Generasi Z yang disebut eye generation karena dari lahir sudah ada internet, berkarakter FOMO, fear out missing out, tidak mau ketinggalan dengan teman yang sudah baca suatu buku.
“MIJIL memiliki spesifikasi unik, ada misteri pembunuhan, ending tidak bisa ditebak, disukai generasi Z. Generasi Z sebenarnya lebih suka membaca buku dari pada e-book. Buku MIJIL diterbitkan di era digital masih memiliki daya tarik bagi para Gen Z atau milenial,” tukas Dyah.
Perlu trik tersendiri untuk membuka wawasan mereka untuk membaca karya-karya bagus seperti MIJIL, salah satunya dengan membuat film dari buku MIJIL, semoga segera ada produser film yang tertarik dengan MIJIL.
”Selamat untuk Mbak Erna, setelah tiga puluh tahun tidak menulis, langsung menghasilkan satu novel ini merupakan hal yang dahsyat. Tantangannya adalah bagaimana mensubtilkan pengalaman, mengambil angle yang tepat. Saran saya mumpung Mbak Erna sudah menghidupkan mesin menulis, perbanyak membaca dan mengeksplorasi karya-karya literatur dunia yang bagus untuk memperkaya hasil karya berikutnya.
MIJIL adalah satu awalan, kita sambut dengan baik, semoga bisa terus menjadi inspirasi, dibuat dalam bentuk film. Semoga Mbak Erna bisa terus mengembangkan letikan api yang sudah muncul menjadi bara yang menyala-nyala,” ungkap Nezar Patria menutup sesi paparan pembedah.
Penulis novel MIJIL, Ernawiyati menambahkan bahwa, pesan moral dalam novel MIJIL antara lain adalah perjuangan membela wong cilik membutuhkan kesabaran dan keberanian.
Harapannya novel MIJIL yang disajikan dengan gaya bahasa populer dan mudah dicerna ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dan mempopulerkan nilai-nilai budaya Indonesia.
Selain itu, Ernawiyati juga berencana akan mulai menulis novel kedua yang merupakan sekuel dari novel MIJIL dengan tetap mengangkat nilai-nilai budaya Indonesia.
Dengan menjadi penulis, Ernawiyati ingin meninggalkan karya yang bermanfaat dan dikenang sepanjang masa. Dan jangan lupa menghubunginya melalui media sosial Facebook fanpage : ernawiyati, Instagram : @ernawiyati, Twitter : @ernawiyati, Linkedin : ernawiyati Author dan YouTube : ernawiyati. (ari)
