Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL PEMILU

Prabowo – Gibran di Ambang Kemenangan dan Sindrom Ruang Diskusi

Jumlah kalangan terpelajar dengan militansi aktivis sangatlah sedikit. Katakanlah jumlah mereka yang aktif militan untuk isu itu sekitar satu juta orang.

Satu juta dari total populasi pemilih sebanyak 204 juta, itu artinya hanyalah 0,5% saja. Itulah efek dari badai di dalam toples. Itulah cerminan dari sindrom ruang diskusi.

Ini bukan berarti isu yang diangkat tak penting untuk kepentingan bangsa. Tapi para penganjur isu itu gagal mengangkatnya agar memiliki efek elektoral dalam pilpres kali ini.

Di sisi lain, pemilih Indonesia didominasi oleh wong ciliik. Yaitu mereka yang pendidikannya SMP ke bawah, yang penghasilannya itu 2 juta per bulan ke bawah.

Jumlah mereka sebanyak 55%. Mereka dipuaskan oleh janji program Prabowo – Gibran untuk makan siang dan susu gratis. Mereka juga senang dengan program Prabowo – Gibran yang melanjutkan kartu Indonesia sehat, Kartu Indonesia Pintar, yang lebih dilengkapi.

Wong cilik ini juga puas dengan bantuan sosial yang memang diturunkan secara sah oleh pemerintah Jokowi. Dan efek dari bansos Jokowi ini lebih berpengaruh kepada Prabowo – Gibran, yang semakin diindentikkan dengan Jokowi.

Ini pelajaran mahal pilpres 2024 kali ini. Bahwa isu yang penting bagi kemajuan sebuah bangsa tidak otomatis memiliki efek elektoral yang juga penting.

Jika isu itu dalam pilpres dimainkan secara salah, isu itu justru menurunkan elektabilitas Ganjar – Mahfud yang dibantu oleh banyak aktivis yang anti demokrasi mendung.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita