Namun sekarang di Akhir Desember 2023 pemilih yang puas Jokowi yang mendukung Ganjar-Mahfud sebesar 26.4%.
Kedua, plin-plan soal Jokowi. Periode Maret-September 2023 yang terasa dan muncul di pemberitaan adalah sikap positif terhadap Jokowi. Memasuki Oktober sampai November terasa ada perubahan narasi menjadi negatif dan menyerang Jokowi. Desember narasi yang berkembang positif kembali kepada Jokowi.
Contoh narasi yang beredar di media misalnya: pemberitaan tanggal 28 Mei 2023. Di pemberitaan tersebut dalam judulnya dinyatakan “Ganjar: Presiden Jokowi adalah mentor saya”. Ini merupakan narasi positif terhadap Jokowi.
Pada November 2023, muncul aneka kritik PDIP kepada Jokowi. Mulai dari pemberitaan dengan judul “Ganjar Kritik Kebijakan Maritim Jokowi 10 Tahun Mandek: Enggak Niat”. Juga Jokowi dianggap Neo-Orde Baru. Ini adalah bentuk narasi menyerang Jokowi.
Namun Pada tanggal 3 Desember 2023, muncul kembali pemberitaan dengan judul “Kepada Jokowi, Ganjar: Terima kasih sudah membantu saya Banyak.” Juga pernyataan dari kubu Ganjar, bahwa Ganjar adalah Jokowi 3.0. Narasi yang dikembangkan pada bulan Desember kembali positif kembali terhadap Jokowi.
Ketiga, slogan baru Ganjar-Mahfud: “Gerak Cepat Indonesia Unggul” belum memberikan efek elektoral.
Mengapa Anes-Muhaimin terus menaik dan kini melampaui Ganjar-Mahfud?
Pertama, semakin tegas mengambil sikap oposisi dan perubahan. Sikap oposisi ini tercermin dalam misalnya tak setuju pindah ibukota ke Kalimantan.
Kedua, yang tak puas Jokowi, semakin banyak pindah ke Anies-Muhaimin. Pemilih yang tidak puas terhadap Jokowi paling besar pilihan capres nya adalah Anies-Muhaimin. Pemilih yang tak puas terhadap Jokowi yang memilih Anies-Muhaimin stabil diangka 40% lebih. Bahkan pada akhir November 2023, pemilih yang tak puas Jokowi yang memilih Anies-Muhaimin pernah melebihi 50%, tepatnya 56.8%.
Ketiga, limpahan suara yang eksodus dari Ganjar-Mahfud. Suara Ganjar yang eksodus, 35% ke Anies-Muhaimin.
Terdapat lima kesimpulan dari rilis Denny JA kali ini :
Pertama, Prabowo-Gibran satu-satunya pasangan yang sudah melewati 40% suara (lolos putaran kedua, diatas margin of error dar batas 33.3%, batas masuk putaran kedua.).
Kedua, musibah politik melanda Ganjar-Mahfud akibat blunder menyerang sumber mata air dukungannya sendiri: Jokowi.
Ketiga, mesin politik Anies-Muhaimin semakin panas dan mulai melampaui Ganjar-Mahfud.
Keempat, perjuangan Prabowo-Gibran berupaya menang satu putaran.
Kelima, perjuangan Ganjar-Mahfud dan Anies-Muhaimin adalah saling menyingkirkan untuk lolos di putaran kedua.
Akhir Januari 2024, dua minggu sebelum hari pencoblosan, data akan lebih mengerucut lagi. Saat itu kita akan lebih bisa memastikan apakah pilpres 2024 akan berlangsung satu putaran saja atau tidak.
Saat itu, akhir Januari 2024, kita juga akan semakin tahu apakah Anies-Muhaimin atau Ganjar-Mahfud yang akhirnya lolos ke putaran kedua, menantang Prabowo-Gibran.
Tapi memang selama tiga kali bertarung menjadi capres, baru di pilpres 2024 ini, Prabowo terasa berbeda. Ia bukan saja menang telak di berbagai lembaga survei yang kredibel. Tapi juga Prabowo tampil jauh lebih rileks dengan gemoynya.
Data lebih lengkap dapat dilihat dalam link:
https://drive.google.com/file/d/1GNUNYcWcyVTdqF225UMW8v6Dz4_zoPiQ/view?usp=drivesdk. (ari)
