Pembedah yang juga merupakan Direksi Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan (BP2DK) dengan sapaan akrab Fai ini juga menambahkan bahwa, novel MIJIL termasuk dalam kategori novel realis.
Seperti halnya Max Havelaar karya Multatuli yang menceritakan perjuangan rakyat Banten di masa kolonial penjajahan Belanda dan telah menjadi bacaan wajib para siswa, serta novel-novel tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer yang mengisahkan perjuangan melawan ketidakadilan.
“Jika novel MIJIL dibaca anak-anak remaja, mereka bisa menjadi pemimpin di masa depan. Memperjuangkan keadilan susah dijangkau laporan hukum. Kita tidak tahu dalamnya hati orang yang dirampas haknya dari dokumen laporan hukum. Hanya karya seni yang bisa menjangkau dunia batin orang yang menderita. Novel MIJIL bisa menjangkau dimensi batin korban yang tidak bisa dijangkau laporan jurnalistik atau dokumen hukum.
“Kunci novel realis adalah totalitas, menghadirkan keseluruhan dari cerita, menghadirkan realitas secara total. Novel MIJIL merupakan kontribusi yang sangat penting bagi literasi Indonesia. Jadi harapannya agar Ernawiyati segera menulis sekuel novel MIJIL berikutnya,” papar Fai yang juga pengajar di Institiut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Program Magister Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia hingga saat ini. (ubs/ari)

