“Dengan adanya kesepakatan dari manajemen Taylor Swift untuk konser eksklusif, tentunya negara-negara Asia Tenggara dapat belajar dengan melihat kesiapan Singapura dalam aspek koneksitas antar kota, kapasitas hotel, kesiapan fasilitas pendukung dan juga termasuk penerimaan dari Masyarakat,” tutur Gancar.
Walaupun masih banyak masyarakat yang menolak artis pendukung LGBTQ+, Taylor Swift tetap berhasil menguasai pangsa pasar dengan bargaining power dan pencapaian yang dimilikinya.
“Seperti yang kita ketahui bahwa Taylor Swift memiliki banyak apresiasi level dunia terhadap karyanya di antaranya 6 penghargaan American Music Awards tahun 2022, masuk dalam Person of the Year 2023 di majalah TIME, Wanita pertama yang mencapai 100 juta pendengar perbulan di Spotify, 8 penghargaan People’s Choice Awards 2023, serta banyak Grammy Awards. Oleh karena itu, kontrak eksklusif yang didapatkan Taylor Swift merupakan hasil dari kerja seninya yang luar biasa,” tambahnya.
Meninjau dari sepak terjang yang dimiliki Taylor Swift, Gancar menilai para swifties tak akan segan-segan membuang duitnya demi menengok idola mereka.
Sehingga, penting bagi tim manajemen Taylor Swift dapat memberikan kepastian waktu untuk pelaksanaan konser. Gancar juga menyarankan bahwa pihak manajemen juga harus mampu menyuguhkan hal unik dalam perfoma Taylor Swift, serta penyediaan atribut fandom bagi para fansnya.
“Mungkin bisa ditambahkan adanya cinderamata khusus dan special bagi para penonton konser langsung. Hal tersebut untuk memunculkan adanya FOMO (Fear of Missing Out) dari para penggemar, yang menjadikan mereka merasa rugi apabila tidak hadir secara langsung di konser,” papar Gancar di akhir wawancara. (ari)

