Hal yang sama juga terjadi dalam metode berpikir lainnya yaitu skeptifisme (keraguan). Dalam dunia akademik, keraguan merupakan metode. Metode ini mengajarkan bahwa, kita tidak boleh mudah percaya terhadap suatu pernyataan sebagai hal yang benar maupun salah.
Jika ada suatu pernyataan maka kita harus meragukan kebenarannya. Begitu juga suatu pernyataan yang dianggap salah sekalipun kita harus bersikap kritis dengan mempertanyakan apakah benar bahwa, pernyataan tersebut benar-benar salah.
Metode keraguan ini juga berlaku terhadap pendapat kita sendiri. Bagi seorang akademisi, pendapat sendiripun harus diragukan. Jika mereka menyatakan suatu pendapat, harus terbuka untuk dikritisi. Seandainya pendapatnya terbukti salah, harus mau menerima dan mengakui kesalahannya.
Etika yang harus dipegang oleh seorang akademisi dalam menyampaikan pendapat adalah “Tolong pendapat saya dikritisi, mungkin ada yang salah”. Bukan ini pendapat saya dan harus diterima sebagai kebenaran.
Oleh karena itu, di dunia akademik perdebatan merupakan hal yang biasa dilakukan. Semua perdebatan tersebut dimaksudkan untuk membuktikan dan mencari kebenaran dengan menjadikan fakta dan logika sebagai acuannya.
Metode keraguan ini juga sering bergeser menjadi sikap yang subjektif dalam dunia politik.
Keraguan bukan menjadi metode untuk mencari kebenaran, tetapi menjadi sikap untuk menyalahkan yang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri. Orang mudah menganggap bahwa, yang lain salah dan pendapatnya sendiri yang benar tanpa disertai dengan fakta dan logika yang menjadi dasar kebenaran.
Dalam berpikir induktif, memang bertolak dari data, namun kesimpulan penalaran induktif tidak pasti benar. Penalaran induktif hanya mengantarkan untuk menyatakan bahwa, kesimpulannya didukung dengan data yang kuat, namun tingkat kebenarannya tidak akan seratus persen (dalam arti pasti benar).
Dalam pergulatan antara sikap (subjektifitas) dan rasionalitas (logika) memunculkan pertanyaan mana yang seharusnya menjadi pembimbing, Apakah rasionalitas yang membimbing sikap, atau rasionalitas digunakan untuk membenarkan sikap.
Dampak dari dua hubungan tersebut sangat berbeda. Rasionalitas yang digunakan untuk membenarkan sikap seringkali kehilangan daya objektivitasnya, apalagi tanpa didukung dengan data dan fakta yang kuat. Hal inilah yang seringkali memicu terjadinya konflik politik.
Namun jika rasionalitas yang dijadikan dasar untuk bersikap, setidaknya akan lebih objektif, karena ada tahapan dan metode untuk menguji suatu kebenaran. Dengan demikian, sikap yang muncul tidak bersifat emosional, tetapi lebih rasional.
Sebagai negara demokrasi, setiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk berpendapat, termasuk dalam mensikapi hasil pemilu. Namun pendapat yang disampaikan secara emosional apalagi tanpa didukung data, bisa menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
Apapun hasil pemilu sebagai proses demokrasi harus kita sikapi secara bijaksana, dan sekaligus sebagai pembelajaran dalam kehidupan berbangsa. Apa yang kurang kita perbaiki. dan apa yang sudah baik terus dilanjutkan untuk lima tahun berikutnya.

