Ditambah lagi, kata Iwan, pemukiman yang sekarang di dalam makam semakin bertambah banyak dan semakin kumuh. Padahal didalam area makam itu yang tercatat PBB nya di BAPENDA Surabaya cuma 5 rumah saja. Maka dari itu, ahli waris yang sudah mendirikan Yayasan Keluarga Oesman yang berbadan hukum.
“Supaya pengelolaan makan bungkul lebih transparan dan dipergunakan untuk kepentingan makam bukan kepentingan pribadi,” tandasnya. **

