“Dalam cerita tersebut ditampilkan bagaimana seorang Imam Ma’ruf Al Karkhi mengajarkan akhlak dalam doanya. Di saat murid-muridnya memintanya untuk mendoakan keburukan, beliau meresponsnya dengan cara yang tidak seperti mereka harapkan. Beliau berdoa memohon kebaikan bagi para pemabuk itu di dunia dan akhirat,” terang Khofifah.
Jika dicermati dengan baik, ujar wanita yang juga Ketua Umum IKA Unair tersebut, kalimat doa yang dipanjatkan Imam Ma’ruf Al Karkhi mengandung makna yang sangat dalam. Tidak mungkin seseorang bisa bersenang-senang di akhirat jika mereka ahli maksiat dan tidak pernah beramal baik. Artinya, dengan doa tersebut Imam Ma’ruf al-Karkhi sedang memohonkan tobat untuk mereka, tapi dengan cara yang halus dan beradab.
Sisi menariknya, Imam Ma’ruf al-Karkhi melibatkan murid-muridnya dalam proses pengajaran akhlak melalui doa ini. Dengan demikian, murid-muridnya turut mendapat pahala dari tobatnya para pemabuk itu, yang akhirnya membuat mereka lebih sadar terhadap tanggung jawab seorang muslim kepada muslim lainnya.
Tidak hanya itu, dalam doa Imam Ma’ruf Al Karkhi tersebut juga mengajarkan adab dan seni bertutur kepada Allah. Bahwa ada cara berdoa yang beradab dan berseni tutur tinggi dengan maksud-maksud tertentu yang terkandung di dalamnya.
Di sisi lain, konsep ajaran tasawuf yang diterapkan Imam Ma’ruf Al Karkhi juga tentang hasil perolehan jiwa dari mahabbah (cinta) yang dirasakan oleh Rabiah al Adawiyah. Menurutnya, cinta harus dilanjutkan sampai titik tuma’ninah (ketenangan jiwa). Karena cinta dan ketenangan itulah yang menjadi tujuan tasawuf.
Imam Ma’ruf Al Karkhi mengajarkan bahwa kebahagiaan yang sebenarnya dan kekal bukanlah kekayaan harta benda, melainkan kekayaan hati. Kekayaan hati hanya dapat dicapai melalui makrifah(pengenalan) terhadap yang dicintai. Apabila yang dicintai telah dikenal, terwujudlah kebahagiaan dan ketentraman dalam hati dan menjadi kecil segara urusan kebendaan dalam penglihatan hati.
“Begitulah beliau mengajarkan bahwa cinta pada Sang Pencipta haruslah menghasilkan tuma’ninah atau ketenangan jiwa, itulah tujuan dari tasawuf itu,” urai Khofifah.
“Semoga kita bisa senantiasa meneladani apa yang diajarkan oleh Imam Ma’ruf Al Karkhi. Dan Allah memasukkan kita semua dalam golongan bersama orang-orang yang shalih,” pungkasnya.
(WA)

