Usahanya tidak sia-sia. Dalam jangka waktu lima tahun, ia berhasil mengumpulkan ratusan karakter boneka potehi asli seperti yang dimainkan ayah dan kakeknya dulu pada 2004. Ia juga merangkul para dalang wayang potehi untuk bergabung dengan grup wayang potehi Fu He An. Kini anggotanya berjumlah 5 orang Dalang dan 20 orang pemusik.
”Kalau ditanya apa motivasinya, saya hanya ingin melihat wayang potehi seperti asalnya dulu. Saya juga ingin bantu teman-teman dalang,” ungkap bapak lima anak ini, yang juga ketua Kelenteng Hong San Kiong.
Yang menarik, pelestari Wayang Potehi saat ini tidak hanya didominasi oleh etnis Tionghoa, namun juga banyak dari warga etnis Jawa dan suku lainnya. Bahkan mayoritas anggotanya adalah etnis Jawa. Toni pun membuka kesempatan luas bagi siapapun yang berminat untuk mempelajari wayang potehi.
Sebagai pelestari wayang potehi, berbagai penghargaan sudah diterimanya, baik nasional maupun internasional. Tahun 2017, Toni menerima penghargaan sebagai tokoh pengabdi seni dari bentara Budaya. Ia juga menerima penghargaan dari Museum Coancu Provinsi Hokian Tiongkok. Dan sebenarnya pentas di Italia awal Juni mendatang itu bukan yang pertama kali. Beberapa tahun sebelumnya, ia sudah membawa grupnya, Fu He An, pentas di beberapa negara. Antara lain Jepang, Malaysia dan Taiwan. ***(Sas)

