“Dan itu sudah berjalan selama ini kami sudah memiliki pengalaman bagaimana mendidik putra putri kita terutama dari pekerja migran Indonesia yang ada di Malaysia,” imbuh Khofifah.
Oleh sebab itu, Ketika mendengarkan pernyataan Prabowo bahwa Indonesia siap mengevakuasi 1000 warga Palestina, maka format yang diterapkan pada anak-anak pekerja migran Malaysia yang dididik melalui pesantren di Jawa Timur sangat memungkinkan untuk diterapkan serupa dalam menangani korban perang di Gaza Palestina.
“Kami matur bahwa pesantren-pesantren di Jawa Timur siap untuk menerima kehadiran mereka dengan proses proses yang kita akan bangun dan komunikasikan berikutnya. Misalnya apakah yang ditampung adalah mereka anak-anak yang yatim, atau yatim piatu, dan seterusnya. Yang jelas bahwa penanganannya akan berbasis pesantren,” terang Khofifah.
Khofifah menjelaskan bahwa memberikan pendidikan untuk anak-anak Palestina di pesantren-pesantren di Jatim sangat memungkinkan. Terutama karena anak-anak dari Palestina menggunakan bahas Arab yang tentu sudah dalam posisi seiring dengan lingkungan pesantren yang ada di Jatim.
“Insya Allah kita bisa memberikan bantuan dari kekuatan apa yang kita miliki dan membantu meringankan beban mereka sebagai korban perang yang menyebabkan bencana kemanusian yang luar biasa di Palestina,” pungkas Khofifah.
(WA)

