Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Ziarah untuk Para Wartawan yang Dibunuh dan Kisah Rumah Sakit Jiwa

Ziarah untuk Para Wartawan yang Dibunuh dan Kisah Rumah Sakit Jiwa

Wartawan Slamet Jabarudi, mengungkapkan versi berbeda untuk kasus pemerkosaan Sum Kuning. Ia ditahan karena tulisannya di koran.

Kasus yang lain menimpa wartawan Udin (Fuad Muhammad Syafruddin). Pada tahun 1996 merupakan salah satu peristiwa kelam dalam sejarah kebebasan pers di Indonesia.

Udin seorang wartawan di Harian Bernas, Yogyakarta. Ia dikenal kritis terhadap pemerintah dan sering menulis artikel tentang korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat setempat.

Pada tanggal 13 Agustus 1996, Udin ditemukan dalam kondisi kritis di rumahnya setelah mengalami penganiayaan berat. Ia menderita luka serius di kepala dan akhirnya meninggal dunia pada 16 Agustus 1996.

Kasus ini diduga kuat terkait dengan tulisan-tulisannya yang kritis, terutama yang mengungkapkan skandal korupsi pejabat lokal.

Penyelidikan polisi terhadap kasus ini banyak mendapat kritik karena dianggap tidak transparan dan tidak efektif.

Beberapa pihak mencurigai penyelidikan sengaja diarahkan untuk melindungi pihak-pihak yang terlibat dalam kekerasan terhadap Udin.

Membaca puisi esai Jonminofri itu, saya juga teringat sebuah monumen. Di jantung New York, berdiri monumen megah: The Girl Puzzle Monument. Dibangun pada tahun 2021 di Roosevelt Island.

Monumen ini menghormati Nellie Bly. Seorang jurnalis pionir yang berani mengungkap ketidakadilan. Nellie Bly dianggap yang memulai tradisi investigative report dunia jurnalisme.

Monumen ini menggambarkan wajah besar Bly. Potongan-potongan puzzle di sekelilingnya melambangkan berbagai aspek perjuangannya.

Di akhir abad ke-19, kegelapan merajalela di rumah sakit jiwa Amerika Serikat. Seorang jurnalis muda, Nellie Bly, mencium ada yang tak beres di berbagai rumah sakit jiwa itu. Elizabeth Jane Cochran, yang dikenal sebagai Nellie Bly, membongkar yang tersembunyi di sana.

Pada tahun 1887, dia menerima tugas yang mengubah wajah jurnalisme. Bly menyamar menjadi orang lain untuk mengetahui sisi gelap yang sebenarnya.

Bly menyamar sebagai pasien mental. Dia menyelinap ke dalam Asylum for the Insane di Blackwell’s Island, New York. Dengan identitas baru sebagai “Nellie Brown.” Ia berpura-pura kehilangan akal.

Bly menunjukkan tanda-tanda paranoia dan bicara tak menentu. Pemeriksaan medis menyimpulkan bahwa ia mengalami gangguan jiwa. Bly dikirim ke rumah sakit jiwa yang penuh misteri dan penderitaan.

Di dalam tembok yang tinggi dan gelap, Bly menemukan dunia yang jauh dari pandangan publik. Perlakuan tidak manusiawi menjadi pemandangan sehari-hari. Pasien dipukuli, ditampar, dan diisolasi dalam ruangan yang sempit dan gelap.

Mereka dipaksa tidur di ranjang yang kotor dan basah. Makanan yang disediakan hampir tidak layak dimakan.

Lebih dari sekadar kekejaman fisik, Bly melihat ketidakpedulian yang menyesakkan. Banyak dari mereka tidak gila. Mereka hanya miskin atau tidak berdaya. Tanpa kegiatan atau hiburan, pasien di sana merana, tak kuasa, terkurung.

Setelah sepuluh hari yang tak terlupakan, Bly dibebaskan. Ia menulis serangkaian artikel berjudul “Ten Days in a Mad-House” untuk New York World. Laporannya menyebar seperti api.

Artikel-artikel ini menggugah hati. Laporan ini memicu perubahan nyata. Pemerintah dan masyarakat tidak bisa lagi menutup mata.

Dewan Pengawas Amal Publik New York segera melakukan penyelidikan. Mereka mengonfirmasi temuan Bly. Mereka mendorong reformasi besar-besaran.

Anggaran untuk rumah sakit jiwa ditingkatkan. Perbaikan signifikan dilakukan dalam perawatan dan kondisi pasien. Bly membuka jalan bagi perbaikan. Dia memberikan harapan baru bagi mereka yang terkurung dalam gelap.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita