Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JOMBANG

Harga Cabai Makin ‘Pedas’, Ketua KTNA Jatim: Seharusnya Ada Solusi dan Inovasi dari Pemerintah!

Harga Cabai Makin ‘Pedas’, Ketua KTNA Jatim: Seharusnya Ada Solusi dan Inovasi dari Pemerintah!
Tampak Sumrambah, Ketua KTNA Jatim saat ditemui awak media. Foto : Faiz.

JOMBANG, KANALINDONESIA.COM: Hujan deras yang mengguyur berbagai daerah sejak akhir tahun membawa dampak tak terduga bagi para petani cabai. Harga cabai rawit yang biasanya menjadi primadona di dapur kini melambung tinggi.

Di beberapa pasar terpantau harganya bahkan nyaris tak terbendung, bak menguras kantong ibu-ibu rumah tangga. Tak terkecuali seperti di Pasar Citra Niaga Kabupaten Jombang, harga cabai rawit mencapai Rp 75.000 – 80.000 perkilogramnya.

Fenomena ini pun mengundang perhatian Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur, Sumrambah. Ia menyoroti bagaimana musim penghujan selalu menjadi momok bagi para petani cabai.

“Ini kan musim penghujan. Saat seperti ini, tanaman cabai rentan mengalami kerusakan karena terjadi water logging, atau kondisi ketika tanah terlalu jenuh oleh air,” ujar Sumrambah saat ditemui pada Sabtu (4/1/2025) siang.

Ia menjelaskan bahwa saat tanah terlalu banyak menyerap air, akar tanaman kesulitan mendapatkan nutrisi. Alhasil, banyak tanaman yang membusuk sebelum sempat dipanen.

“Inilah yang menjadi salah satu biang keladi melambungnya harga cabai di pasaran,” katanya.

Fenomena yang Selalu Berulang

Menurut Sumrambah, lonjakan harga cabai akibat musim hujan sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun, peristiwa serupa selalu terjadi. Sayangnya, belum ada langkah konkret dari pemerintah untuk mengantisipasi hal ini.

“Seharusnya ada inovasi dari pemerintah. Misalnya, bagaimana saat panen raya cabai ada proses pengolahan. Cabai bisa dikeringkan, diolah agar tidak bergantung sepenuhnya pada kondisi cuaca,” tuturnya.

Bukan hanya cabai, tanaman padi pun disebutkan ikut terdampak. Sumrambah memperingatkan bahwa dalam waktu dekat, harga beras juga bisa ikut naik.

“Di bulan Januari dan Februari, harga beras biasanya meningkat. Ini karena belum masuk musim panen raya, sementara di musim kemarau kemarin banyak daerah yang gagal tanam,” jelasnya.

Namun, ia meyakini bahwa kondisi ini hanya bersifat sementara. Begitu musim panen tiba pada bulan Maret dan April, harga beras akan kembali stabil.

Solusi: Inovasi dan Antisipasi

Sumrambah menegaskan bahwa pemerintah harus mulai berpikir jauh ke depan. Salah satu solusi yang ia tawarkan adalah mengolah cabai menjadi cabai kering.

“Dengan mengeringkan cabai saat panen raya, kita bisa menyimpan stok untuk menghadapi musim hujan. Jadi, kita tidak tergagap-gagap setiap kali harga cabai naik,” kata Sumrambah saat ditemui awak media.

Ia berharap pemerintah lebih proaktif dalam mengelola stok pangan, agar fenomena naik-turunnya harga cabai dan beras tidak terus berulang setiap tahun.

“Kalau kita sudah tahu ritmenya, seharusnya kita bisa mengantisipasinya. Jangan sampai setiap tahun selalu ada kepanikan warga dengan kenaikan harga,” pungkasnya.

Sekadar diketahui pada berita sebelumnya, jika awal tahun 2025, harga cabai rawit di Jombang, Jawa Timur makin ‘pedas’. Seperti yang terpantau di salah satu pasar tradisional citra niaga Kabupaten Jombang pada Sabtu (04/01/2025) siang. Harga cabai rawit di pasar yang biasa dikenal pasar legi ini mencapai Rp 75.000 per kilogramnya.

Bahkan sebagian lapak pedagang lain ada yang menjual di harga Rp 80.000 per kilogramnya. Rupanya kenaikan harga cabai yang cukup signifikan ini sudah terjadi sejak sepekan yang lalu. Bahkan dari fenomena ini banyak warga yang terpaksa beralih membeli cabai rusak. (Faiz)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita