Tak ketinggalan, Triya juga memberikan saran bagi para perempuan dalam menghadapi potensi pelecehan seksual. “Pelecehan seksual di olahraga cukup mengganggu, tapi kita hadapi dengan lari bersama komunitas, lari jangan sendirian, kalau mau sendirian cari tempat aman,” pesannya agar para perempuan terjaga.
Sebagai pelaku olahraga hingga saat ini, Triyaningsih melihat sudah ada perubahan signifikan pada perempuan dan olahraga. “Sisi patriarki sudah mendarah daging, tapi lambat laun akan berkurang, pada saatnya perempuan ada di posisi sama, equal.,” kata Triya. “Olahraga untuk perempuan akan bagus untuk ke depannya, Equality Gender di olahraga sudah bisa di terima, sudah semakin baik,” sebut Triya.
“Aku berharap di Indonesia sudah sangat ramah, banyak olahraga laki-laki bisa juga untuk perempuan,” tambah Triya.
Equality juga disinggung Salsa sebagai harapan ke depan merujuk pengalamannya. “Pada kenyataannya saya mengalami sendiri bahwa kita perempuan itu mampu bersaing dan menjadi setara, siapa yang menyangka bahwa saya saat ini bisa menjadi presiden sebuah organisasi yang cukup besar pada semua bidang keilmuan di Cina, jadi menurut saya kalau kita perempuan tidak diberikan kesempatan kita harus bisa memulai dan buktikan bahwa kita berhasil mematahkan pandangan itu,” ungkap Salsa mahasiswa PhD di Tsinghua Univeristy.
Selain itu, sebagai akademisi, Salsa juga berharap Indonesia memiliki perhatian terhadap fasilitas olahraga, terutama berkaitan dengan Sport Science. “Kenyataannya kita belum punya laboratorium yang bagus untuk Sport Science, di Cina satu fakultas bisa satu gedung sendiri. Beberapa cabang olahraga punya laboratorium sendiri.,” ungkapnya sembari menyinggung masih terbatasnya ahli Sport Science di Tanah Air.@tpa

