Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL NASIONAL

Maulid Nabi, Eks Dirut PLN Batubara Khairil Wahyuni berbagi Pengalaman Bangkit Berkat Ketauladanan Rasulullah

Maulid Nabi, Eks Dirut PLN Batubara Khairil Wahyuni berbagi Pengalaman Bangkit Berkat Ketauladanan Rasulullah

Saat kembali bangkit, menurut Khairil, dirinya memilih tidak lagi jadi pekerja profesional. Ia merintis sebagai pebisnis hingga saat ini. Mengingat, skill seseorang bermuara kalau tidak sebagai tenaga profesional, pilihannya sebagai enterpreneur atau pebisnis.

“Sebagai pebisnis, (berkonsekuensi) mengambil risiko terhadap proses untuk mendapatkan income. Tadinya, saya (sebagai pekerja profesional) digaji orang. Saya (bangkit) mengambil risiko kalau bisnis tidak jalan saya tidak bisa makan. Tapi kalau berkembang, saya bisa makan,” kata Khairil.

SEMBILAN RULES BERBISNIS

Sejak merintis sebagai pebisnis, Khairil tidak ingin mengulang kegagalan yang pernah dialami sebagai pekerja profesional di PLN saat sukses mencapai posisi di kursi direksi.

Khairil benar-benar fokus berpegangan pada Alquran dan ketauladanan Rasulullah. Khususnya, dalam mengimplementasikan sembilan rules bisnis yang pernah dipraktikkan selama berkarier di PLN hingga sukses menduduki jabatan direksi di PLN batubara.

“Sebagai pebisnis (owner) atau pekerja profesional mengelola bisnis, ada sembilan rules yang harus dipunyai agar kita bisa menjalankan bisnis tersebut,” ungkapnya.

Rinciannya. Pertama, tujuan bisnis terarah. Kedua, punya tim atau orang-orang (pekerja) yang mumpuni dalam mengurus bisnis. Ketiga, ada aturan main menjalankan usaha. Keempat, ada modal (bisa berupa uang atau barang) agar bisnis berjalan. Kelima, pengelola bisnis harus punya karakter bagaimana agar bisa sukses.

Keenam, punya target bisnis. Ketujuh, mengetahui apa target owner? Misalnya, perusahaan untung, dan owner puas. Kedelapan, bagaimana proses bisnis dijalankan (mulai belanja bahan/barang, peroses produksi, penjualan, dan hasil akhir). Kesembilan, mempunyai “key performance indicators” atau indikator kinerja.

Kesembilan elemen dasar bisnis ini harus dikelola secara berkesinambungan dan terararah, bukan sporadis.

“Kesembilan dasar dalam berbisnis ini saya dapatkan dalam pengalamanan saat sukses sebagai pelaku pekerja. Saya katakan sukses karena saya bisa berkarier menduduki posisi puncak sebagai direksi (Dirut PT PLN Batubara),” katanya.

Namun, Khairil mengingatkan, tetap mendasarkan kerangka berpikir bisnis dalam perspektif Alquran. Selain itu, juga kerangka berpikir untuk mengantisipasi ancaman-ancaman. Sehingga, berhati hati dalam mengambil suatu tindakan. Apabila bisnis dikelola secara baik dan kehati-hatian, maka hasilnya dipastikan sukses dengan ridloh Allah.

“(Fakta) Pengalaman sepanjang karier saya, norma Alquran ini kekal, yang lainnya berubah. Aturan-aturan, norma-norma hukum bisnis tidak tetap, sifatnya dinamis. Karena bisnis dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal, dan kedua faktor tersebut tidak pasti/berubah ubah,” tegas Khairil.

Faktor eksternal, menurutnya, yakni situasi politik dan ekonomi di Tanah Air. Politik ekonomi bisa berubah setiap lima tahun pasca pemilu, sosialnya berubah, hukumnya juga berubah, sehingga ekonominya berubah.

“Mengakibatkan Hukum bisnis tidak kekal/ tidak pasti. Jadi, peganglah Alquran, kemudian diimplemantasikan dalam suatu prilaku, mengikuti prilaku Rasululah SAW,” kata Khairil.

Dari ketauladanan prilaku Rasulullah itu menjadi dasar tindakan, semangat, motivasi, sehingga kapasitas dan pemahaman dalam berbisnis dapat berkembang dan bertambah.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita