“Untuk mencapai Net Zero Indonesia memiliki peluang investasi senilai 3,8 triliun dolar AS — sekitar 4% dari total PDB kumulatif nasional 2025–2050. Kesempatan sebesar ini tidak boleh kita lewatkan. Sektor swasta Indonesia harus menjadi garda terdepan dalam empat hal penting: mempercepat transisi iklim melalui inovasi dan investasi, menggerakkan pembiayaan hijau, memanfaatkan potensi besar pasar karbon nasional, serta membangun keterampilan dan talenta untuk industri masa depan. Ini bukan sekadar visi, tapi peta jalan nyata menuju ekonomi hijau Indonesia. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita mengeksekusinya secara konkret dan kolaboratif,” kata Anin, sapaan akrab Anindya.
Rangkaian ISF 2025 meliputi plenary sessions, thematic discussions, high-level dialogues, serta exhibition dan science corner yang menampilkan inovasi riset berkelanjutan dari universitas terkemuka Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Salah satu sesi unggulan, High-Level CEO Dialogue, difasilitasi oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) dan diikuti oleh lebih dari 30 CEO global dari berbagai sektor industri, energi, dan keuangan. (*)

