JAKARTA, KANALINDONESIA.COM: Operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue atau SAR) korban tanah longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, resmi diperpanjang. Keputusan ini diambil setelah tim gabungan memasuki hari ketujuh pencarian pada Rabu (19/11) dan masih menyisakan tiga korban hilang.
Data terkini dari Pos Lapangan Penanganan Darurat Bencana di Desa Cibeunying mencatat jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 20 orang, setelah tim SAR kembali menemukan dua jenazah dari timbunan material longsor hari ini.
Abdul Muhari, Ph.D., Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, memastikan bahwa perpanjangan masa operasi SAR sudah sesuai dengan prosedur dan kebutuhan di lapangan.
“Operasi SAR di Cilacap telah diperpanjang menjadi 10 hari. Perpanjangan ini atas permintaan keluarga, karena korban yang hilang tinggal tiga orang lagi, dan tentu saja atas perintah Kepala BNPB selaku pemegang komando penanganan darurat,” jelas Abdul Muhari.
Keputusan perpanjangan ini diambil oleh Basarnas sebagai sektor utama pencarian dan pertolongan, sehingga masa pencarian akan bertambah selama tiga hari ke depan.
Operasi pencarian esok hari akan difokuskan pada dua lokasi utama: worksite A1, yang diduga terdapat satu korban, dan worksite B1, yang diperkirakan menjadi lokasi dua korban lainnya.
Seiring dengan upaya pencarian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap segera mempersiapkan kebutuhan hunian bagi warga terdampak. Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman, telah menyiapkan lahan seluas 3,9 hektare di Desa Jenang, Kecamatan Majenang, untuk pembangunan Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap). Lokasi ini berjarak sekitar dua kilometer dari wilayah Desa Cibeunying.
Badan Geologi telah merilis tanggapan awal yang menyebut lokasi relokasi tersebut berpotensi dapat digunakan. Tim Badan Geologi akan segera dikirim untuk melakukan penyelidikan geologi mendalam, guna memastikan pembangunan Huntara dan Huntap sesuai dengan konsep build back better and safer.
Saat ini, pendataan warga yang direkomendasikan untuk relokasi masih berlangsung, dengan total sementara 296 Kepala Keluarga (KK).
Pembangunan Huntara dipercepat agar para pengungsi yang kini menempati tiga titik pengungsian (Balai Desa Cibeunying, MTS SS Cibeunying, dan Masjid Baeturrohman Wanasari) dapat segera pindah ke tempat tinggal yang lebih layak.
BNPB juga menawarkan solusi pengungsian mandiri bagi warga yang memilih mengontrak rumah atau tinggal bersama kerabat. Masyarakat terdampak yang memilih opsi ini dapat memanfaatkan Dana Tunggu Hunian sebesar Rp600.000 per KK per bulan selama enam bulan.
BNPB berkomitmen penuh memastikan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, baik di pos pengungsian maupun yang memilih mengungsi mandiri, seperti selimut, matras, sembako, makanan siap saji, dan pakaian.

