BANJARNEGARA, KANALINDONESIA.COM: Bencana tanah longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, telah mengakibatkan 934 jiwa penyintas kini harus mengungsi. Data yang tercatat pada Rabu (19/11/2025) menunjukkan, para pengungsi yang terdiri dari 454 laki-laki dan 480 perempuan ini berasal dari 335 Kepala Keluarga (KK).
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan,” para penyintas saat ini tersebar di lima lokasi pengungsian, yaitu Kantor Kecamatan Pandanarum, GOR Desa Beji, Gedung Haji Desa Pringamba, Gedung Muhammadiyah, serta rumah kerabat atau saudara,”ucapnya.
BNPB segera mengambil langkah cepat untuk memenuhi kebutuhan mendesak para pengungsi sesuai perintah Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, saat kunjungan lapangan pada Selasa (18/11/2025).
Kebutuhan vital yang harus diprioritaskan meliputi popok balita, perlengkapan mandi, pakaian, susu dan makanan anak, hygiene kit, antiseptik, alas tidur, alat kebersihan, Alat Pelindung Diri (APD) seperti sepatu bot, sarung tangan, dan kacamata keselamatan, serta layanan pendampingan psikososial.
Di sisi lain, kerugian material akibat bencana ini juga masif. Hasil kaji cepat menunjukkan 182 unit rumah terdampak, dengan rincian 54 unit mengalami kerusakan berat dan 128 unit rusak ringan.
Kerusakan serius juga menimpa infrastruktur desa, antara lain jalan sepanjang 800 meter, jaringan listrik, saluran irigasi 670 meter dan satu unit bendung, infrastruktur irigasi perpipaan; satu masjid rusak berat dan dua musala rusak ringan/ terancam.
Sementara itu kerugian ekonomi 5 ekor sapi, 125 ekor kambing, 14 unit warung, dan lahan pertanian.
“Selain penanganan pengungsi, Tim SAR gabungan terus memaksimalkan operasi pencarian dan pertolongan korban hilang,”tutur Abdul Muhari.
Hingga Rabu (19/11/2025) pukul 14.20 WIB, tim menemukan satu jenazah korban lagi di Desa Pandanarum, sehingga jumlah korban meninggal dunia kini mencapai tiga orang. Sebanyak 25 korban lainnya masih dalam proses pencarian.
Sebanyak 521 personel dari berbagai unsur, termasuk BNPB, BPBD, TNI–Polri, tenaga kesehatan, dan relawan, terlibat aktif dalam penanganan darurat ini. Mereka berkoordinasi erat untuk mempercepat pencarian, evakuasi, dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi.
Upaya penanganan yang terus berjalan meliputi operasi pencarian korban dengan alat berat dan manual, monitoring geologi, layanan psikososial dan kesehatan, pengelolaan dapur umum, logistik, pengaturan lalu lintas, serta rapat evaluasi harian.
Rencana operasi pada Kamis (20/11) akan melanjutkan misi prioritas, yaitu operasi pencarian, pemantauan kondisi geologi, layanan posko, dukungan psikososial dan kesehatan, penanganan logistik, operasional dapur umum, pendampingan pengungsi, serta evaluasi harian.

