MOJOKERTO, KANALINDONESIA.COM: Pada Kamis (27/11/2025) malam, jadi suasana tak biasa di Yayasan Bimasakti Peduli Negeri Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Halaman yayasan ini penuh keramaian pengunjung dari warga sekitar bahkan luar daerah yang rela datang dari jarak kejauhan.
Sementara di depan, berjejer rapi alat musik tradisional kesenian dan panggung sederhana yang menggambarkan kebudayaan. Sejumlah tokoh kebudayaan, tokoh masyarakat, instansi pemerintahan dan wakil rakyat, terpantau juga hadir di kursi kehormatan.
Rupanya, saat itu merupakan pagelaran Ludruk dari Budhi Wijaya dengan lakon geger pabrik gula gempolkerep. Acara tersebut didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur yang bersinergi dengan Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur.
Cuaca malam itu cukup cerah dengan langit yang terang dari sinar bintang dan cahaya bulan. Hawanya cukup menyejukkan, melihat lokasi pagelaran memang berada di tengah perbukitan. Ratusan warga mulai dari kalangan muda hingga orang dewasa turut antusias menyaksikan.
Wiwin Sumrambah, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur membuka acara Ludruk tersebut yang didampingi oleh Anik Maslachah yang merupakan Ketua dari Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur. Pembukaan ini cukup ditandai penyerahan yang nampak saklar.
“Tadi, pagelaran Ludruk ini dibuka secara simbolis dengan penyerahan sampur atau selendang yang diberikan oleh saya kepada penari Remo. Kemudian Bu Anik menyerahkan tebu kepada tokoh lakon ludruk,” ucap Wiwin Sumrambah, Wakil Rakyat Jatim Dapil 10 ini.
Lanjut disampaikan Wiwin dalam sambutannya, bahwa acara Ludruk tersebut digelar sebagai bentuk upaya kepedulian pemerintah terhadap pelestarian kebudayaan. Bahkan dengan digelarnya acara ini, juga mampu jadi percontohan daerah lain dalam menjaga tradisi kebudayaan dan kesenian lokal kita bersama.
“Sebab situasi kebudayaan kita saat ini kalau dilihat dan dirasakan, tengah terkikis oleh budaya luar yang berdampak pada karakter anak muda. Maka oleh hal itu diharapkan dengan adanya pagelaran ini, termotivasi bersama untuk saling mencintai budaya kita sendiri yang bisa dimulai dari budaya di lingkungan keluarga,” katanya.
Tak sampai di situ saja, Wiwin menyadarkan bahwa dengan pagelaran kesenian tradisional itu juga sebagai upaya dalam pemberdayaan terhadap para seniman yang ada di Jawa Timur. Dengan itu diharapkan agar masyarakat yang hadir memahami serta menghayati dibalik pagelaran pentas kebudayaan tersebut.
“Dengan budaya, mampu mencetak karakter masyarakat yang santun dan baik. Dan dengan mencintai budaya dan kesenian lokal sekitar kita, tanpa kita sadari jika kita telah melakukan upaya pemberdayaan bersama. Mari tumbuh bersama dan semoga budaya Nusantara terus eksis dan dilestarikan bersama kedepannya,” imbuhnya yang kemudian disambut tepuk tangan serentak.
Masih di tempat yang sama, Ibnu Sunanto yang merupakan Pembina Yayasan Bimasakti Peduli Negeri ini menyampaikan apresiasinya terhadap pemerintah dan wakil rakyat di Jawa Timur. Sebab pagelaran ludruk itu dinilai sejalan dengan visi dari yayasan setempat.
“Karena selain bergerak di bidang sosial dan ekonomi kreatif, juga memiliki visi utama pelestarian budaya nusantara. Perlu diketahui juga di tempat ini terdapat rutinan sarasehan budaya yg mendatangkan narasumber atau tokoh secara nasional,” katanya dalan sambutannya.
Tak sampai disitu saja, lanjut disampaikan Ibnu Sunanto bahwa di tempat yayasan yang dimaksud juga menggelar berbagai pelatihan untuk para generasi muda. Hal itu digelar agar ada generasi lanjut dari anak muda untuk melestarikan budaya Nusantara.

