Tekad Kuat Ketua PGRI Ponorogo, Demi Masa Depan Guru Honorer

ARSO 06 Des 2025
Tekad Kuat Ketua PGRI Ponorogo, Demi Masa Depan Guru Honorer

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) di Kabupaten Ponorogo menjadi panggung bagi sebuah panggilan hati yang mendalam. Di hadapan ribuan guru yang memadati alun-alun, Ketua PGRI Ponorogo, Ruskamto, S.Pd., M.Pd., menyampaikan pidato yang tidak hanya merayakan sejarah panjang organisasi, tetapi juga menegaskan kembali tekadnya untuk memperjuangkan nasib guru honorer.

Ruskamto menggarisbawahi bahwa peringatan ini jauh melampaui sekadar seremoni organisasi profesi. PGRI memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari lahirnya bangsa Indonesia.

Tepat 100 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, seluruh organisasi guru di Indonesia menyatukan tekad dan berkumpul di Surakarta, membentuk PGRI pada 25 November 1945.

Tanggal bersejarah ini kemudian ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 sebagai Hari Guru Nasional sebagai bentuk penghormatan atas peran dan jasa guru dalam pembangunan bangsa.

Tema peringatan tahun ini, “Guru Bermutu, Indonesia Maju. Bersama PGRI Wujudkan Indonesia Emas. Guru Hebat, Indonesia Kuat”, dijadikan Ruskamto bukan sekadar untaian kata, melainkan sebuah panggilan hati dan tekad untuk seluruh guru di Indonesia.

Di tengah gemuruh perayaan dan apresiasi atas prestasi luar biasa yang telah ditorehkan guru-guru Ponorogo termasuk dua guru berprestasi tingkat nasional, lima tingkat provinsi, dan 36 tingkat kabupaten Ruskamto secara jujur dan rendah hati menyoroti satu isu yang masih membebani pikirannya yaitu kesejahteraan guru honorer.

Ruskamto, yang baru terpilih memimpin PGRI Ponorogo periode 2025–2030, menyampaikan permohonan yang menyentuh kepada semua pihak pengambil kebijakan.

“Sebagai seorang ayah, kami sangat bersedih. Kami belum berhasil memperjuangkan nasib panjenengan,” ungkap Ruskamto dengan nada penuh empati.

Ia menyadari betul tantangan yang dihadapi guru honorer.

Permohonan ini ditujukan khususnya kepada Pemerintah Daerah dan para pejabat pengambil kebijakan di Ponorogo. Ruskamto memohon agar mereka selalu memperhatikan nasib dan kesejahteraan para guru honorer.

Ia menegaskan bahwa guru honorer juga memiliki tanggung jawab yang luar biasa, sama seperti guru lainnya.

Pidato Ruskamto juga memberikan motivasi yang kuat, mengubah perspektif tentang peran guru.

“Memang, guru bukan orang hebat. Tetapi, semua orang hebat pasti pernah mengecap jasa sentuhan dari Bapak/Ibu guru,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi penutup yang menginspirasi, mengingatkan semua yang hadir bahwa guru adalah fondasi di balik setiap keberhasilan besar.

Pesan ini memperkuat kembali tekad PGRI untuk terus berkarya, menginspirasi, dan menjadi teladan terbaik, serta berjuang tanpa henti untuk memastikan para guru, khususnya guru honorer, mendapatkan perhatian dan penghargaan yang layak.