PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo menyatakan Ponorogo dalam status siaga bencana setelah mencatat 179 kejadian bencana alam terjadi mulai Januari hingga November 2025. Tingginya angka insiden ini menjadi alarm bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana yang ekstrem.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun, menegaskan bahwa data ini bukan sekadar statistik, melainkan penunjuk bahwa kesiapan menghadapi bencana harus ditingkatkan.
“Tingginya angka ini bukan sekadar data, tapi menunjukkan bahwa kita harus lebih siap dan waspada menghadapi potensi bencana,” kata Masun.
Dari total 179 kejadian, tanah longsor mendominasi dengan 96 insiden, diikuti oleh 47 kejadian banjir, 26 cuaca ekstrem, 7 kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 2 kekeringan, dan 1 kebakaran bangunan rumah.
Menurut Masun, sebaran lokasi bencana sangat sesuai dengan karakter geografis Ponorogo. Longsor mayoritas terjadi di Kecamatan Pulung, Ngrayun, dan Ngebel, sementara banjir berulang kali melanda Kecamatan Balong.
Peringatan dari BPBD ini diperkuat oleh analisis terbaru dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Ponorogo, berada pada kategori menengah hingga tinggi potensi gerakan tanah dan aliran bahan rombakan (banjir bandang).
Masun menyebutkan, Ponorogo masuk zona rawan tinggi bersama Trenggalek dan Pacitan karena memiliki karakteristik lereng yang curam, struktur sesar lokal, dan daerah aliran sungai yang pendek.
Ia juga menyebutkan bahwa potensi ancaman di Ponorogo serupa dengan longsor Banjarnegara tahun 2014 atau banjir bandang Humbang di Sumatra Utara tahun 2024.
Masun menekankan bahwa bencana alam selalu memberikan tanda awal sebelum terjadi, dan masyarakat wajib jeli mengamati sinyal tersebut.
Tanda-tanda tanah longsor antara lain munculnya suara gemeretak dari tanah; retakan tanah yang semakin melebar; posisi pohon atau tiang yang mulai condong; munculnya mata air baru atau kondisi air sungai yang tiba-tiba keruh.
Sementara itu, tanda utama banjir bandang terjadi ketika hujan ekstrem turun di wilayah hulu yang curam.
“Tanda utama banjir itu hujan yang sangat deras disertai suara gemuruh dari hulu, lalu air sungai naik cepat dan jadi keruh dalam waktu yang sangat singkat,” ungkapnya.
Masun mengimbau masyarakat agar segera merespons ketika tanda-tanda alam muncul, sebab pergerakan tanah bisa terjadi dalam hitungan menit, jam, atau beberapa minggu, bergantung pada intensitas hujan, jenis tanah, kemiringan lereng, dan vegetasi.
Oleh karena itu, BPBD Ponorogo saat ini memperkuat mitigasi, pemantauan lapangan, sosialisasi, dan edukasi tanda-tanda bahaya kepada masyarakat.
“Waspadai hujan deras yang berlangsung terus menerus. Kewaspadaan itu penting, karena sering kali bencana besar datang setelah tanda-tanda kecil,” tutup Masun.(Ist)

