BANDA ACEH, KANALINDONESIA.COM: Pemerintah Indonesia memastikan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban bencana hidrometeorologi di tiga provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar)—akan terus dilanjutkan secara terukur dan terkoordinasi. Keputusan ini diambil oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Basarnas untuk menindaklanjuti laporan korban hilang yang dinamis di lapangan.Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan hal ini dalam konferensi pers di Banda Aceh, Minggu (14/12/2025).
Perpanjangan operasi SAR adalah komitmen pemerintah untuk memastikan setiap laporan korban hilang ditangani secara serius.
Data terbaru per hari Minggu menunjukkan peningkatan jumlah korban meninggal dunia dan penurunan jumlah korban hilang serta pengungsi.
Total korban meninggal meningkat dari 1.006 jiwa menjadi 1.016 jiwa. Korban hilang menurun dari 217 orang menjadi 212 orang. Jumlah pengungsi menurun dari 654.642 orang menjadi 624.670 orang.
Tim gabungan SAR yang dipimpin Basarnas pada Minggu (14/12/2025) berhasil menemukan tambahan 66 korban meninggal dunia.
Rincian penemuan korban adalah Aceh 33 korban; Sumatera Utara (Sumut) 19 korban; Sumatra Barat (Sumbar) 14 korban.
Pemerintah menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh keluarga korban.
Muhari menjelaskan bahwa operasi SAR disesuaikan dengan data korban hilang di masing-masing kabupaten/kota.
“Operasi SAR kami sesuaikan dengan data korban hilang. Meskipun di beberapa wilayah laporan korban hilang telah nihil, tim Basarnas tetap bersiaga karena ada kemungkinan korban ditemukan di wilayah administratif lain yang berdekatan,” jelas Abdul Muhari.
Berikut adalah wilayah di tiga provinsi yang masih aktif melakukan operasi pencarian korban Aceh: Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bireuen, Aceh Tamiang, dan Nagan Raya.Sumatera Utara : Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga. Sumatra Barat: Kabupaten Agam, Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Tanah Datar.
Kapusdatin BNPB menegaskan pentingnya identifikasi ketat korban yang ditemukan di wilayah berbeda (by name by address) untuk mencegah duplikasi pencatatan dan menjaga keakuratan data nasional.
Penurunan jumlah korban hilang dalam seminggu terakhir (sebanyak 58 orang) juga dipengaruhi oleh hasil verifikasi ulang berbasis kecamatan, termasuk pengecekan kasus khusus seperti penemuan jasad yang sudah meninggal sebelum bencana.
Sementara itu, penurunan jumlah pengungsi disebabkan oleh sebagian warga yang mulai berpindah ke rumah keluarga atau kerabat yang tidak terdampak.
Meskipun mereka berpindah, warga ini tetap dikategorikan sebagai pengungsi mandiri dan dipastikan masih mendapat dukungan logistik serta pasokan pangan dari dapur umum.
“Verifikasi terus kami lakukan untuk memastikan apakah warga sudah benar-benar kembali ke rumah atau masih membutuhkan dukungan logistik. Prinsipnya, negara tidak boleh absen sampai seluruh warga benar-benar pulih,” pungkas Abdul.

