SEMARANG, KANALINDONESIA.COM: Kota Semarang menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional XXXI Tahun 2026. Tim Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menilai ibu kota Jawa Tengah ini memiliki posisi strategis dan kesiapan teknis yang sangat memadai setelah melakukan survei kelayakan tempat (venue) selama dua hari.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengungkapkan rasa optimistisnya dalam menyukseskan agenda keagamaan berskala nasional tersebut. Ia menyebut momentum ini sebagai sejarah baru bagi Semarang setelah terakhir kali menjadi tuan rumah pada tahun 1979.
“Kota Semarang siap menyambut dan menyukseskan MTQ Nasional 2026. Kami akan mengerahkan seluruh potensi daerah dan berkolaborasi dengan pemerintah pusat serta provinsi untuk menghadirkan penyelenggaraan yang berkualitas pada September 2026 mendatang,” ujar Agustina.
Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al-Qur’an Kemenag RI, Rizal Ahmad Rangkuty, menjelaskan bahwa tim peninjau fokus pada aspek tata ruang, alur registrasi, dan ketersediaan ruang tunggu peserta. Tim juga sedang membahas penataan 24 majelis lomba serta skema pengaturan kedatangan kafilah dari berbagai provinsi guna mencegah kemacetan dan penumpukan massa.
Kemenag mempertimbangkan penggunaan area terbuka dan tenda besar sebagai lokasi tambahan, selama faktor keamanan dan mitigasi cuaca terpenuhi. Rizal menegaskan bahwa prinsip utama penyediaan tempat adalah kenyamanan dan fleksibilitas bagi seluruh peserta.
Sementara itu, Analis Kebijakan Ahli Muda Bidang Keagamaan Setda Provinsi Jawa Tengah, Agung Priyono, menyoroti kawasan PRPP Semarang sebagai lokasi yang paling strategis. Kedekatan PRPP dengan bandara menjadi nilai tambah yang memudahkan akses kafilah dari luar daerah untuk melakukan registrasi sebelum menuju hotel.
Agung menambahkan bahwa fasilitas pendukung seperti ruang berpendingin udara, area antrean, hingga layanan konsumsi menjadi prioritas penyempurnaan. Selain itu, arsitektur gedung yang kental dengan nuansa khas Jawa dinilai memberikan nilai estetika visual yang kuat untuk kebutuhan dokumentasi dan publikasi acara.
Pihak penyelenggara juga menekankan aspek efisiensi biaya dengan mengoptimalkan fasilitas gedung yang sudah ada. Tim penilai menganggap ruang-ruang di dalam gedung dapat berfungsi secara efektif untuk memenuhi berbagai kebutuhan pelaksanaan lomba tanpa harus melakukan instalasi yang berlebihan. (Tim)

