Dwi juga menyoroti kondisi geologi di wilayah tersebut yang didominasi oleh tanah batulempung. Karakteristik tanah jenis ini memang dikenal gampang tererosi oleh arus air, sehingga memerlukan perlindungan ekstra pada pilar-pilar jembatan. Ia merencanakan penggunaan teknik riprap atau penataan batu alam untuk membentengi kaki jembatan agar lebih efisien namun tetap kokoh.
“Normalisasi sungai ini kita targetkan selesai dalam dua bulan ke depan agar arus stabil. Setelah itu, baru kita perkuat pilar-pilar jembatannya. Jembatan ini sebenarnya masih cukup kuat, namun kita lakukan pencegahan dengan menata batu yang ada untuk melindungi kaki pilarnya. Ini langkah paling efisien untuk melindungi infrastruktur yang ada,” jelasnya.

