Oleh : Sugito, S.Sos, M.H.
Penulis Adalah: Staf Ahli Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Bidang Hubungan Antara Lembaga
Setiap menjelang lebaran, jalan-jalan di Indonesia seakan berubah menjadi arus panjang manusia yang bergerak menuju satu arah yakni pulang kampung (mudik = mulih disik (Jawa) = pulang sebentar). Terminal dipenuhi dengan wajah-wajah yang membawa koper dan kardus, stasiun dipadati pemudik yang menunggu kereta, sementara jalan tol dipenuhi kendaraan yang berjalan perlahan dalam antrean panjang, demikian juga pelabuhan dipadati antrian penumpang dan penyeberangan. Hiruk pikuk dan mobilitas orang dari berbagai arah perantauan menuju kampung halaman. Bagi sebagian orang, mungkin perjalanan itu melelahkan. Namun bagi banyak orang lainnya, perjalanan itu justru penuh harapan dan kebahagiaan serta momen yang selalu dinantikan.
Tiap tahun angka mudik lebaran tidaklah kecil. Kementerian Perhubungan mencatat bahwa pada masa angkutan lebaran 2025, sekitar 154,6 juta orang melakukan perjalanan mudik di seluruh Indonesia, dan pada tahun 2026 ini diperkirakan ada 143,9 juta perjalanan atau masyarakat yang melakukan mudik lebaran. Meski diperkirakan mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2025, namun jumlah tersebut masih tergolong tinggi. Angka tersebut menjadikan mudik sebagai salah satu mobilitas manusia terbesar di dunia dalam waktu singkat. Namun jika ditanya mengapa orang rela menempuh perjalanan ratusan bahkan ribuan kilometer dengan biaya yang tidak sedikit, jawabannya sering kali sederhana, yakni pulang kampung, rindu kampung halaman, atau alasan-alasan yang bersifat religi misalnya sungkem orangtua, ziarah makam leluhur, juga alasan sosial seperti silaturahmi ke sanak famili/kerabat, atau juga sekedar melepas penat dari rutinitas di rantau untuk bercengkerama dengan sanak saudara di kampung. Di balik kemacetan panjang dan kelelahan perjalanan, mudik adalah tentang kerinduan dan perjuangan .
Di tengah fenomena besar ini, ada sebuah ungkapan lama yang terasa begitu relevan: “Sejauh bangau terbang, ia akan tetap kembali ke sarangnya.” Bangau dikenal sebagai burung pengembara yang mampu terbang jauh melintasi langit dan musim. Namun pada akhirnya ia selalu kembali ke sarangnya tempat ia berasal. Ungkapan ini menyiratkan satu kebijaksanaan sederhana bahwa sejauh apa pun perjalanan, setiap makhluk memiliki naluri untuk kembali ke asalnya. Manusia pun demikian, mudik seperti panggilan jiwa ikatan batin setiap manusia dengan tempat kelahirannya.
Desa: Akar yang Tidak Pernah Putus
Mudik Lebaran sebenarnya bukan hanya perjalanan geografis dari kota ke desa. Mudik adalah perjalanan kembali menuju akar kehidupan. Urbanisasi selama puluhan tahun telah mengubah wajah Indonesia, baik bagi tempat asal (desa) maupun kota (tujuan). Jutaan orang meninggalkan desa untuk bekerja di kota. Mereka ada yang menjadi di sektor formal maupun informal seperti buruh pabrik, pegawai kantor, pedagang, sopir, teknisi, hingga profesional di berbagai bidang. Kota menjadi ruang mencari nafkah dan membangun masa depan. Namun desa tetap menjadi ruang kenangan. Di sanalah seseorang pertama kali melihat dunia, tempat saudara lahir “plasenta” ditanam, belajar berjalan, bahkan belajar mengenal Tuhan. Di sanalah ia mengenal suara azan dari masjid kampung, belajar mengaji, bermain di lapangan tanah bersama teman-teman, atau membantu orang tua di sawah dan kebun. Desa bukan sekadar tempat lahir, tetapi ruang sosial yang membentuk karakter manusia.

